Korona Makin Mewabah, Pemerintah Disarankan Cari Pasar Lain

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Kegiatan ekonomi global terganggu akibat isu wabah virus korona. Perputaran uang menjadi lambat, aktivitas ekonomi lesu. Pernyataan itu diungkapkan oleh Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus.

“Perputaran uang menjadi lambat, aktivitas ekonomi lesu. Seperti aliran barang, jasa, dan investasi.Ujung-ujungnya mempengaruhi daya beli masyarakat. Tenaga kerja di seluruh negara pun terdampak,” kata Heri di ITS Office Tower, Pasar Minggu, Kamis (27/2).

Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok sedang hangat-hangatnya. Makin erat. Baik dalam sektor industri, jasa, dan pariwisata. Sektor yang terakhir disebut itu paling awal langsung terkena imbas wabah Covid-19 itu.

Ditutupnya penerbangan menuju atau dari Tiongkok menimbulkan efek domino. Merugikan maskapai, perhotelan, dan industri kuliner. Pemasukan dari sektor tersebut pun anjlok. Begitu pula dari sektor manufaktur.

“Indonesia banyak mengimpor bahan baku dari Tiongkok. Apalagi Wuhan adalah kota industri dan jasa. Banyak pabrikan mulai dari industri hilir, intermediet, hingga bahan baku,” jelasnya.

Praktis, aliran suplai bahan baku dari Tiongkok berkurang. Bahkan langsung stop. Akibatnya, menimbulkan kelangkaan di dalam negeri. Misalnya, bahan baku untuk barang elektronik maupun otomitif yang sangat bergantung dari Negeri Panda itu.

“Tiba-tiba mereka stop atau kurang pasti kita akan kena shock. Pasti terganggu,” ujar Heri.

Akibatnya, akan muncul kelangkaan barang, minimnya produksi, inflasi, dan mempengaruhi daya beli masyarakat.

Lantas bagaimana solusinya? Heri menyebut Indonesia harus segera mencari dan memetakan negara lain sebagai alternatif mengganti peran Tiongkok dalam dagang internasional. Terutama yang memiliki barang sama kompetitifnya dengan Tiongkok dan bisa diterima oleh industri tanah air. Misalnya, impor bahan baku komponen elektronik.

“Selain dari Tiongkok, mana lagi sih yang bisa menyediakan? Yang harganya sama murahnya dengan Tiongkok. Atau yang kualitasnya sama, sehingga cocok dengan industri tanah air. Tujuannya adalah agar industry tidak kekurangan bahan baku,” urainya.

Heri sangat yakin bukan cuma Indonesia yang akan bertindak demikian. Vietnam juga akan benar-benar memanfaatkan momentum wabah virus korona untuk mencari peluang. Usaha yang sama bisa diterapkan untuk sektor pariwisata. Tapi, pemerintah harus getol mempromosikan daerah wisatanya go internasional.

“Katakanlah wisatawan asing yang tadinya mau dateng Tiongkok, nggak jadi, suruh dateng ke Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho menuturkan, dampak ekonomi penyebaran virus Covid-19. Hasil perhitungan mereka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan terkoreksi 0,19 persen hingga 0,29 persen.

“Pertumbuhan akan berada di angka 4,84 persen untuk kasus moderat dan hanya mencapai 4,74 persen jika kepanikan terus meluas,” tuturnya di kantor LIPI kemarin. (jp)

  • Dipublish : 28 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami