KPK Cecar Pengacara PDIP Soal Percakapan PAW Harun Masiku

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri menegaskan, pihaknya telah berkali-kali mengingatkan parpol untuk memilih sosok yang bersih sebagai calon kepala daerah (cakada). Tidak terkecuali pada pilkada tahun ini. (dok JawaPos.com)
Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri menegaskan, pihaknya telah berkali-kali mengingatkan parpol untuk memilih sosok yang bersih sebagai calon kepala daerah (cakada). Tidak terkecuali pada pilkada tahun ini. (dok JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyelesaikan pemeriksaan terhadap pengacara PDI Perjuangan, Donny Tri Istiqomah terkait kasus dugaan suap proses pergantian antarwaktu (PAW) Fraksi PDIP. Penyidik lembaga antirasuah mengonfirmasi percakapan bukti elektronik dalam operasi tangkap tangan (OTT).

“Penyidik mengkroscek bukti percakapan yang ada pada bukti barang bukti elektronik yang telah disita oleh penyidik KPK, termasuk barang bukti yang ditemukan pada saat operasi tangkap tangan,” kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (27/2).

Kendati demikian, Ali enggan mengungkapkan secara rinci isi percakapan yang dikonfirmasi penyidik terhadap Donny. Namun, ia menegaskan isi pesan yang ditanyakan penyidik terkait dengan perkara yang menjerat eks calon legislatif PDIP Harun Masiku.

“Tentu ada isinya dan isinya dikonfirmasi detailnya tentang apa-apa bunyi percakapannya, apa pengetahuan saksi terkait tentunya nanti bisa dilihat secara terbuka ketika perkaranya sudah dilimpahkan ke persidangan. Apa percakapannya, siapa ngomong apa, siapa mengatakan apa,” pungkasnya.

Sebelumnya penyidik juga mendalami komunikasi yang dilakukan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dengan para tersangka kasus dugaan suap PAW. Hal ini disampaikan Ali usai Hasto menjalani pemeriksaan selama 2,5 jam di kantor komisi antirasuah, Rabu (26/2).

“Pendalaman pemeriksaan sebelumnya, dan lebih fokus kepada terkait konfirmasi isi dari barang bukti elektronik,” ucap Ali di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu (26/2).

“Ada barang bukti elektronik yang ditemukan oleh KPK dan kemudian tentu ada isinya, percakapan tentunya lebih fokus ke antartersangka dengan pihak-pihak lain,” pungkas Ali.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Atas perbuatannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang  Nomor 31 Tahun 1999.

Sementara itu, Harun Masiku dan Saeful sebagai tersangka pemberi suap disangkakan melanggar pasal pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (jp)

  • Dipublish : 28 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami