KPK Menjadwalkan Pemeriksaan Terhadap Mantan Pejabat Garuda Indonesia

Dok. Foto: FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS
Dok. Foto: FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Corporate Secretary (Corsec) and Legal PT HM Sampoerna Tbk Ike Andriani. Sebelumnya, Ike merupakan mantan Corporate Secretary and Legal PT Garuda Indonesia.

Ike diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Hadinoto Soedigno.

“Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HDS (Hadinoto Soedigno),” kata juru bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Senin (16/12).

Tak hanya Ike Andriani, tim penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap pejabat dan mantan pejabat Garuda Indonesia lainnya. Beberapa di antaranya, Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Iwan Joeniarto. Vice President Corporate Secretary and Investor Relations PT Garuda Indonesia Hengki Heriandono serta pegawai Bank Danamon yang juga mantan EVP Human Capital & Corp. Supp. Services PT Garuda Indonesia Heriyanto Agung Putra.

Seperti halnya Ike Andriani, ketiga pejabat dan mantan pejabat PT Garuda Indonesia ini juga diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Hadinoto Soedigno.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, dan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) tahun 2007-2012 Hadinoto Soedigno tersangka kasus dugaan suap pengadaan mesin dan pesawat di PT Garuda Indonesia.

Keduanya diduga menerima suap dari Beneficial Owner Connaught International Pte Ltd Soetikno Soedarjo yang juga pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA). Soetikno juga dijerat sebagai tersangka dalam kasus ini.

Soetikno diduga memberi Rp 5,79 miliar kepada Emirsyah untuk pembayaran rumah di Pondok Indah, USD 680 ribu dan EUR 1,02 juta yang dikirim ke rekening perusahaan milik Emirsyah di Singapura, dan SGD 1,2 juta untuk pelunasan apartemen milik Emirsyah di Singapura.

Sedangkan untuk Hadinoto, Soetikno memberi USD 2,3 juta dan EUR 477 ribu yang dikirim ke rekening Hadinoto di Singapura. Selain dijerat tersangka suap, Emirsyah Satar dan Soetikno Soedardjo dijerat dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU). (jp)

  • Dipublish : 16 Desember 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami