Kuasa Hukum Joko Hartono: Copy Paste dari Surat Tuntutan Jaksa

Joko Hartono Tirto ((FEDRIK TARIGAN/JAWA POS))
Joko Hartono Tirto ((FEDRIK TARIGAN/JAWA POS))
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Jakarta – Penasihat hukum Direktur Utama PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, Soesilo Aribowo membantah kliennya mengendalikan sejumlah Manajer Investasi (MI) dalam
pembelian saham-saham untuk investasi PT Asuransi Jiwasraya. Soesilo menegaskan, kliennya tidak bisa mengendalikan Jiwasraya.

“Bagaimana mungkin dia (Joko Hartono Tirto) mengendalikan Jiwasraya? Jadi, dia tidak mungkin bisa mengendalikan Jiwasraya,” kata Soesilo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (12/10) malam.

Soesilo lantas menyesalkan terhadap kliennya diputus seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta. Sebab, Joko diklaim tidak memiliki kewenangan dalam perusahaan pelat merah Jiwasraya.

“Itu tidak nalar menurut saya. Dia (Joko Hartono) tidak punya kemampuan untuk mencegah pilihan investasi oleh Jiwasraya, Nggak bisa,” tegas Soesilo.

Menurut Soesilo, jika kliennya disebut mengendalikan sejumlah MI, juga sangat tidak masuk akal. Menurutnya, pertimbangan yang dibuat majelis hakim dalam menjatuhkan vonis tidak sesuai dengan fakta-fakta dipersidangan.

“Lebih ke copy paste dari surat tuntutan Jaksa,” cetus Soesilo.

Soesilo pun merasa kaget kliennya divonis seumur hidup oleh majelis hakim. Menurutnya, perkara tersebut terbilang sulit, baik untuk jaksa maupun majelis hakim.

“Terus terang saya kaget dan mengecewakan. Karena, saya pikir, ini perkara yang sulit bagi Jaksa,” ujar Soesilo.

Soesilo menyebut, pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan vonis pun tidak maksimal. Sebab perkara pasar modal ini sangat rumit.

“Saya sudah 30 tahun menjadi pengacara, baru kali ini saya alami surat tuntutan itu berubah dan ditambahkan di replik,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto divonis seumur hidup oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pihak swasta dalam kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya ini terbukti secara bersama-sama merugikan keuangan negara sebesar Rp 16,8 triliun.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Joko Hartono Tirto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan primer,” kata Ketua Majelis Hakim Rosmina membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta, Senin (12/10).

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan hukuman pidana penjara seumur hidup,” imbuhnya.

Majelis hakim juga menjatuhkan hukuman seumur hidup terhadap tiga mantan direksi PT Asuransi Jiwasraya. Mereka diantaranya mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo, dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan.

Ketiga mantan petinggi perusahaan asuransi plat merah itu juga dinilai terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Mereka terbukti melakukan korupsi sebesar Rp 16,8 triliun.

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menilai, para terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Perbuatan mereka juga dianggap berimplikasi pada kesulitan ekonomi terhadap para peserta PT Asuransi Jiwasraya.

Sementara hal yang meringankan para terdakwa dianggap bersikap sopan dan kooperatif dalam persidangan, dan belum pernah dihukum.

Para terdakwa terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. (JP)

  • Dipublish : 13 Oktober 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami