Lantunan Tahlil Iringi Pemakaman, Keluarga Rela Dimakamkan di Makkah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MAKKAH – Kabar duka mengudara di syahdunya waktu subuh di Kota Makkah atas berpulangnya Almukaram Kyai Maimun Zubair atau yang lebih akrab disapa Mbah Moen. Beliau wafat di RS An Noor Kota Makkah pada pukul 04.17 WAS.

Kota Makkah Al Mukaramah pagi itu terasa berbeda dengan hari-hari biasanya yang terik, pagi itu hujan mengguyur Makkah, seolah turut berduka dengan kepergian Mbah Moen. “Mekkah mendung Ada rintik hujan Mentari bak rembulan Selamat jalan Mbah Maimoen,” ujar Menag Lukman kala mengiringi mobil ambulans yang membawa jenazah Mbah Moen.

“Maut al-‘alim, Maut al-‘alam. Berpulangnya ulama Duka semesta,” imbuhnya. Lantunan tahlil menggema mengiringi dibawanya jenazah Almarhum Mbah Moen dari RS An Noor Makkah untuk dimandikan.

Menag bersama keluarga Mbah Moen ikut mamandikan jenazah almarhum di pemandian Masjid Muhajirin Syauqiyah, Makkah, kemudian jenazah dibawa ke Kantor Daker Makkah di wilayah Syisyah untuk disalatkan.

Setibanya di kantor Daker Makkah, jenazah Almarhum Mbah Moen disambut jemaah dan petugas haji yang sudah memenuhi ruangan daker. Jemaah dan petugas haji yang memadati ruang Daker Makkah bersama Menag melaksanakan salat jenazah almarhum Mbah Moen. Salat diimami KH Miftahul Akhyar dilanjutkan dengan tahlil dan doa.

Hingga berita ini diturunkan, ratusan pelayat masih berdatangan ke Kantor Daker Makkah. Direncanakan jenazah akan disalatkan di di Masjidil Haram pada waktu Zuhur dan akan dikebumikan di pemakaman Ma’la yang berada di kawasan jafariyah, Makkah.

Menag juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjalankan pesan Almarhum KH Maimoen Zubair untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. “Salah satu yang saya ingin untuk kita semua untuk senantiasa menjaga, memelihara dan berupaya semaksimal mungkin menjalani pesan beliau adalah bahwa beliau sering sekali hampir selalu dalam ceramah-ceramahnya itu menunjukkan kecintaannya yang luar biasa kepada tanah air,” imbuhnya.

Mbah Moen sambung dia, selalu mengajarkan untuk tidak pernah memisahkan antara amaliah, tindakan atau perilaku keagamaan dengan kecintaan terhadap Bangsa Indonesia. “Oleh karenanya saya ingin mengajak kita semua untuk kembali mengingatkan ini, bahwa beliau adalah sosok ulama yang cintanya pada tanah air begitu luar biasa,” ungkap Menag di hadapan ratusan pelayat yang memenuhi kantor Daerah Kerja Makkah.

“Nilai-nilai kebangsaan yang selama ini beliau ajarkan menunjukkan bahwa beliau mengharapkan di tengah-tengah kemajemukan, keragaman kita, beliau terus mengupayakan agar kita semua mengedepankan persatuan, ukhuwah persaudaraan di antara kita,” paparnya.

Menag menambahkan, sikap ini tidak hanya diterapkan di kalangan umat Islam, namun juga di tengah-tengah keragaman si Mbah selalu mengedepankan persaudaraan sesama saudara sebangsa.Dan ini yang selalu terus, khususnya di akhir hayat beliau,” tuturnya.

Hadir dalam pelepasan jenazah KH Maimoen Zubair di Kantor Daerah Kerja Makkah, Ibu Nyai Maimoen Zubair beserta keluarga, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Dubes Agus Maftuh, Konjen M Hery Saripudin, segenap PPIH Arab Saudi serta ratusan para jemaah haji yang hadir sebagai pelayat.

Terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Najamudin Ramli mengatakan almarhum KH Maimoen Zubair atau akrab disapa mbah Moen sebagai sosok pemersatu umat dalam berbagai hal. “Selain sebagai mubaliqh dengan mengasuh pondok pesantren, beliau juga pimpinan Partai NU yang berubah menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP),” kata Najamudin dihubungi di Jakarta, kemarin (6/8).

Selain itu, Mbah Moen juga dianggap sebagai penjaga keseimbangan antara ormas-ormas Islam di Indonesia. Apalagi mbah moen dapat menyelesaikan dualisme kepemimpinan yang pernah terjadi di PPP. Mbah Moen sendiri adalah tokoh tetua di Partai Persatuan Pembangunan sekaligus Mustasyar Pengurus besar Nahdlatul Ulama. Dia wafat di tengah kegiatannya menunaikan ibadah haji memenuhi undangan Kerajaan Arab Saudi menggunakan kuota khusus.

Almarhum KH Maimoen Zubair dimakamkan di Pemakaman Ma’la Kota Mekkah pada Selasa, Jenazah diberangkatkan ke Masjidil Haram untuk dishalatkan usai shalat zuhur waktu setempat. Jama’ah asal Indonesia sudah menunggu sejak sebelum waktu shalat zuhur atau sesaat setelah jenazah diberangkatkan dari Kantor Urusan Haji Daerah Kerja Mekkah menuju masjidil haram.

Pemakaman Ma’la berlokasi di kampung asal Nabi Muhammad dan merupakan tempat dimana istri Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah, dimakamkan. Kondisi pemakamannya berbeda dengan pemakaman pada umumnya di Indonesia. Kawasan pemakaman itu rata oleh pasir berwarna cokelat dengan dua batu sebagai penanda.

Pada bagian lain, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merasa kehilangan ulama kharismatik. Wakil Ketua Umum PPP Fernita Darwis mengimbau kader PPP di seluruh Tanah Air melaksanakan Shalat Ghaib dan membacakan Surah Al Fatihah, Yasin dan tahlil selama tujuh hari setelah Shalat Magrib untuk Mbah Moen. “Semoga Almarhum Mbah Moen khusnul khatimah dan amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan ikhlas,” ujar Fernita dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Fernita, Mbah Moen merupakan ulama besar dan menjadi panutan umat Islam. Mbah Moentak pernah lelah memperjuangkan nilai-nilai ke-Islam@an dan ke-Indonesia-an.”Kita selama ini terus dinasihati akhlak dan sopan santun sesuai ajaran Islam dan adat ketimuran,” kata Fernita.

Ia menyebut sosok Mbah Moen menjadi inspirasi dan layak diteladani. Fernita mengharapkan di masa yang akan datang muncul sosok seperti Mbah Moen. “Karena beliau panutan bagi kita semua. Mari kita teladani beliau. Selamat jalan Mbah Moen. Kami akan melanjutkan perjuangan Mbah Moen,” katanya.

Keluarga besar Kiai Haji Maimoen Zubair merelakan jenazah ulama karismatik yang akrab disapa Mbah Moen itu untuk dimakamkan di Kota Mekkah, Arab Saudi. “Alhamdulillah keluarga sudah merelakan Abah dimakamkan di Mekkah,” kata salah seorang putra Mbah Moen, Kiai Haji Majid Kamil.

Gus Kamil, sapaan akrab KH Majid Kamil, mengungkapkan bahwa pihak keluarga tidak ada yang mendapat wasiat terkait dengan tempat pemakaman Mbah Moen yang wafat saat menunaikan ibadah haji itu. “Dari keluarga tidak ada yang diwasiati beliau minta dimakamkan di sana, tapi banyak orang yang mengatakan Abah ingin meninggal dan dimakamkan di Mekkah,” ujarnya.

Dalam waktu dekat Gus Kamil bersama Taj Yasin Maimoen yang saat ini menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah, akan berangkat ke Mekkah mewakili keluarga. “Rencananya saya bersama Yasin (berangkat ke Mekkah),” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Kamil mengajak masyarakat untuk mendoakan Mbah Moen dengan melaksanakan shalat gaib usai maghrib. “Kami sekeluarga mengharap kepada masyarakat setelah maghrib bisa melaksanakan shalat gaib untuk mendoakan Abah,” ujarnya. Seperti diwartakan, Mbah Moen wafat dalam usi 91 tahun di Kota Mekkah, Arab Saudi, pada hari ini pukul 04.17 waktu setempat. (ful/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 7 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami