Laporan Final KNKT, Sistem Kendali Otomatis Bermasalah Penyebab Jatuhnya Lion Air JT-610

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA,- Penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 akhirnya terungkap. Kemarin (25/10) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan akhir hasil investigasinya.

KNKT menyimpulkan, ada sembilan faktor penyebab kecelakaan tragis yang merenggut 189 nyawa penumpang dan kru itu. Bagian pertama membahas cacat desain sistem kendali otomatis pencegah stall yang disebut maneuvering characteristics augmentation system (MCAS) yang didesain Boeing. Bagian lain menyebutkan kegagalan sensor dan reaksi pilot.

Dalam laporannya, KNKT menuliskan bahwa sensor kecepatan dan posisi pesawat terhadap arah terbang yang lazim disebut angle of attack (AOA) mengalami kerusakan sejak 26 Oktober saat pesawat terbang dari Tianjin (Tiongkok) ke Manado. Karena rusak terus, AOA sensor sebelah kiri akhirnya diganti di Denpasar, Bali. Penggantinya diambilkan dari AOA sensor bekas pesawat Malindo Air yang disimpan Lion Air Group sebagai spare part. Saat terpasang, sensor baru itu agak melenceng 21 derajat. Namun, hal tersebut tidak terdeteksi saat sensor dikalibrasi.

”Apakah sudah dikalibrasi dengan benar, KNKT belum bisa memastikan,” ucap Kepala Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo.

PK-LQP lantas menemui nasib nahasnya saat pagi, 29 Oktober 2018, terbang dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Jakarta menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Masalah demi masalah menyerang Kapten Pilot Bhavye Suneja sejak lepas landas.

Black Box pesawat Lion Air JT-610. Dari bagian Black Box yang ditemukan Tim Basarnas saat upaya pencarian. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Pertama, setir pesawat bergetar karena data ketinggian dan AOA rancu antara kanan dan kiri. MCAS pun membaca bahwa pesawat sedang dalam posisi mendangak yang berbahaya dan berpotensi stall. Akhirnya MCAS bergerak menurunkan trim untuk menundukkan hidung pesawat. Kondisi itu membuat Kapten Pilot Bhavye Suneja berjuang melawan MCAS. Dalam animasi data FDR yang ditampilkan KNKT, setidaknya tujuh kali MCAS aktif membuat PK-LQP menukik. Setiap kali aktif, Bhavye selalu berusaha meng-cancel MCAS dengan cara menarik stik kemudi.

Setelah sekitar sepuluh menit berjuang melawan MCAS, pesawat akhirnya jatuh ke Laut Jawa. Nurcahyo mengatakan, pilot dan kopilot tidak bisa mengantisipasi kondisi tersebut karena memang tak ada lampu indikator aktifnya MCAS. Pilot juga tidak pernah diberi tahu Boeing tentang adanya MCAS dan cara mengatasinya.

Nurcahyo menjelaskan bahwa Boeing terlalu husnuzon dengan berasumsi bahwa semua pilot akan bereaksi sama ketika MCAS aktif. ”Prosedur ini harus lebih membumi. Bisa dilakukan semua pilot. Tidak cukup hanya karena sukses dilakukan test pilot. Kalau test pilot Boeing kan sudah jago semua,” tuturnya. Meski demikian, Nurcahyo mengungkapkan, ada faktor kerja sama yang kurang efektif antara pilot dan kopilot, padatnya arus komunikasi di ruang udara dengan ATC, serta beban kerja kedua pilot yang tak bisa dikelola dengan baik. (jp)

  • Dipublish : 26 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami