Lockdown Menyeluruh Harus Pertimbangkan Data dan Psikologis Warga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, JAKARTA,– Pemprov DKI Jakarta sudah menetapkan status lockdown di beberapa objek vital. Jika nantinya ibu kota mengalami lockdown secara menyeluruh, yang menjadi pertanyaan adalah terkait efek bagi perekonomian di tanah air.

Terkait hal itu, ekonom Bank Permata, Josua Pardede menuturkan, jika pemerintah memutuskan lockdown harus berdasarkan data outbreak dan tingkat kematian yang valid. Artinya, perlu memastikan bahwa tingkat kematian tinggi terhadap seluruh populasi warga DKI Jakarta.

“Karena kalau rasio kematian saat ini hanya mempertimbangkan pasien yang terpapar Covid-19, sepertinya kesimpulannya agak misleading. Dan pemerintah harus mendorong seluruh masyarakat melakukan tes Covid-19,” beber Josua kepada Jawa Pos, Minggu (15/3).

Menurut dia, seandainya wabah Covid-19 semakin memburuk dan memaksa pemerintah melakukan lockdown menyeluruh, tentu akan berdampak signifikan terhadap perekonomian dalam jangka pendek. Khususnya pada kuartal I 2020. Meski demikian, dengan lockdown penanganan Covid-19 lebih cepat. Sehingga dampak negatif terhadap perekonomian tidak berkepanjangan.

Ketersediaan logistik untuk masyarakat perlu dipastikan. Setidaknya sampai masa lockdown selesai. Keputusan pemerintah menonaktifkan kegiatan di seluruh sektor memang sulit.

“Kalau outbreak di Indonesia cukup pesat dengan tingkat kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain, menurut saya keputusan lockdown perlu diambil,” ucap pria yang juga menjabat Vice President Economist Bank Permata itu.

Hanya saja, lanjut Josua, perlu pertimbangan lain untuk melakukan lockdown agar tidak memberikan kepanikan di masyarakat. Selain data rasio kematian dan suspect, juga perlu mempertimbangkan efek psikologis dari keputusan lockdown tersebut.

Josua mengatakan, keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengurangi kegiatan tempat umum, menutup sementara kegiatan belajar mengajar, sudah tepat. Harapannya, bisa mengurangi penyebaran.

Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menolak jika DKI Jakarta dilakukan lockdown menyeluruh. Menurut dia, 70 persen pergerakan uang nasional berada di Ibu Kota. Langkah tersebut terlalu berisiko lantaran aktivitas ekonomi akan berhenti.

“Bisa jadi Indonesia krisis karena Jakarta lockdown,” ujar Bhima. (jp/jm)

  • Dipublish : 16 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami