Lonjakan Kasus Covid-19 di Luar Negeri Rentan Merembet ke RI

Suasana pusat perbelanjaan di Bekasi Jawa Barat, Selasa (31/8/2021). Pemerintah kembali melonggarkan aturan-aturan dalam perpanjangan masa PPKM. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Suasana pusat perbelanjaan di Bekasi Jawa Barat, Selasa (31/8/2021). Pemerintah kembali melonggarkan aturan-aturan dalam perpanjangan masa PPKM. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Pandemi Covid-19 di dalam negeri memang makin reda. Tapi, Satgas Covid-19 meminta semua pihak tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Sebab, potensi serangan virus korona gelombang ketiga masih mengancam.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, melihat pola lonjakan kasus di Indonesia, gelombang Covid-19 biasanya terjadi berselang tiga bulan dari lonjakan kasus di luar negeri. Itu sama seperti yang pernah terjadi di India, Malaysia, dan Jepang. Hal tersebut terbukti bahwa Indonesia baru mengalami kenaikan kasus tiga bulan pasca hantaman gelombang varian Delta di India.

Wiku menyatakan, saat ini beberapa negara mengalami gelombang ketiga. ”Maka, kita harus waspada tetap disiplin agar tidak menyusul lonjakan ketiga dalam beberapa waktu ke depan,” ujarnya. Umumnya, kata Wiku, peluang lonjakan kasus meningkat saat libur panjang dan pelaksanaan kegiatan besar di dalam negeri.

Meski demikian, gelombang ketiga tidak sepenuhnya importasi kasus dari luar negeri. Wiku mengatakan bahwa faktor dalam negeri seperti kerumunan juga bisa menjadi pemicu. ”Misalnya, tradisi berkumpul dan bepergian saat hari raya yang sering menyebabkan abai prokes,” katanya.

Sesuai dengan instruksi presiden, lanjut Wiku, gelombang ketiga bisa dihindari jika kebijakan berlapis seperti akselerasi vaksinasi, pengendalian mobilitas dalam dan luar negeri, pengendalian aktivitas masyarakat, serta upaya 3T dan 3M tidak dikendurkan. Kebijakan-kebijakan tersebut sebaiknya dilakukan dalam masa kasus sedang turun (strolling) seperti saat ini. ”Karena jika intervensi dilakukan saat kasus memuncak, masih lebih banyak memakan sumber daya,” ujarnya. (jpc/jm)

  • Dipublish : 22 September 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami