Masker Jadi Barang yang Mahal di Kota Wuhan

Ilustrasi ist
Ilustrasi ist
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

WUHAN- Feronika, warga Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel, menceritakan bagaimana keadaan di Kota Wuhan Provinsi Hubei-Cina, pasca diisolasikan karena penyebaran virus corona semenjak awal Januari 2019.

Feronika sendiri, menempuh pendidikan di Huazhong University of Science and Techonology. Feronica menceritakan bagaimana situasi ekonomi Kota Wuhan setelah semua jalur transportasi dihentikan karena wabah virus mematikan itu.

Dia mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak kampus untuk memproteksi mahasiswanya. Di kampus Feronika, setiap hari harus mengabsen di grup wechat pada jam-jam yang telah ditentukan. Jika tidak mengabsen pada saat itu, maka petugas akan datang ke kamar untuk menanyakan kondisi mereka. Masker menjadi sesuatu yang wajib bagi mereka di Kota Wuhan.

“Setiap keluar dari dorm kami diwajibkan menggunakan masker dan kampus menyediakan masker untuk setiap mahasiswa internasional tapi dengan jumlah terbatas mengingat sulitnya mendapatkan masker saat ini,” ujar Feronica melalui laporannya yang dikutip dari Fajar.co.id, Kamis (30/1).

Dia melanjutkan, mereka dihimbau jika keluar membeli keperluan diharapkan agar berbelanja dalam jumlah yang banyak untuk keperluan logistik dan sehari-hari agar meminimalisir intensitas keluar kamar. Harga-harga barang juga melonjak naik dari biasanya, terutama masker.

“Harga-harga barang lebih mahal daripada biasanya terutama yang sangat diperlukan seperti masker dan juga kami cukup sulit mendapatkannya.” ceritanya.

Dia mengatakan, setiap hari dipantau oleh PPIT Wuhan ranting HUST yang berkoordinasi dengan PPIT Wuhan dan KBRI Beijing terkait kondisi kesehatan dan persediaan logistik.

“Kemarin kami telah menerima saluran dana dari KBRI untuk keperluan logistik selama seminggu. Kami sangat berterimakasih atas perhatian dan bantuan yang telah diberikan, ini membantu kami dalam membeli keperluan logistik dan kebutuhan sehari-hari yang mulai naik harganya,” ujarnya.

Feronika mengakui ingin keluar dari Kota Wuhan dan kembali ke Indonesia. Secara fisik, mereka sehat, namun kata Feronika, mereka tertekan dengan penyebaran penyakit itu.

“Saat ini kami sehat secara fisik tetapi kami tertekan secara psikis karena kita semua tahu di Wuhan ada corona virus dan merupakan daerah yang paling besar jumlah korbannya. Kami ingin pulang tetapi kami tidak bisa keluar dari kota Wuhan. Kami hanya mampu bertahan dari virus ini dengan kondisi seperti ini dan juga diliputi ketakutan karena berada di tengah-tengah daerah bervirus.” Ujarnya

“Kami sangat berterimakasih atas perhatian dan bantuan dari KBRI Beijing dan pemerintah Indonesia yang telah memperhatikan kami sampai saat ini. Saat ini harapan kami hanya satu, kami ingin pulang ke Indonesia secepatnya. Kami cinta Indonesia,” demikian Feronika. (dal/fin/jm)

  • Dipublish : 30 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami