Mati Listrik Massal Rontokkan Pendapatan Ojol Hingga 50 Persen

Foto : Iwan Tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK : Sejumlah kendaraan terjebak macet dikarenakan Trafick Light (Lampu merah) mati seperti terlihat di Cililitan Jakarta, Minggu (4/8/2019), Semua lampu merah di jalanan Ibukota Jakarta mati dikarenakan pemadaman listrik yang dilakukan PLN. Pemadaman terjadi akibat gas turbin satu sampai enam mengalami trip, sementara gas turbin tujuh dalam posisi mati (off), sehingga mengakibatkan aliran listrik di Jabodetabek mengalami pemadaman.
Foto : Iwan Tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK : Sejumlah kendaraan terjebak macet dikarenakan Trafick Light (Lampu merah) mati seperti terlihat di Cililitan Jakarta, Minggu (4/8/2019), Semua lampu merah di jalanan Ibukota Jakarta mati dikarenakan pemadaman listrik yang dilakukan PLN. Pemadaman terjadi akibat gas turbin satu sampai enam mengalami trip, sementara gas turbin tujuh dalam posisi mati (off), sehingga mengakibatkan aliran listrik di Jabodetabek mengalami pemadaman.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Pemadaman listrik secara massal yang terjadi di pulau Jawa dan sejabodetabek bukan hanya dikeluhkan oleh para pelaku usaha besar ataupun UMKM, melainkan juga transportasi ojek online (ojol).

Sejak pemadaman listrik terjadi pada Minggu (4/8) siang hingga malam hari, pengemudi ojol jadi kesulitan mendapatkan penumpang dan juga menerima order go food. Hal itu karena sinyal operator telekomunikasi terputus. Seperti Telkosel, XL Axiata, dan Indosat.

Keluhan kerugian yang dialami ojol diwakili oleh salah satu pengemudi ojol yang tergabung dalam Presedium Nasional Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA) Indonesia, Igun Wicaksono.

Pemadaman listrik berdampak pada ekonomi para pengemudi ojek online. Pencapaian order ojol anjlok secara drastis, kata dia dalam keterangan persnya kemarin, (6/8).

Lanjut Igun, pemadaman listrik membuat sinyal pada beberapa operarator telekomunikasi menjadi terganggu, bahkan tidak mendapat sinyal sama sekali. Alhasil ojol menjadi kesulitan untuk mendapatkan penumpang.

Kondisi ini membuat margin pendapatan pengemudi ojek online turun, ucap dia.

Dia menghitung jika rata-rata selama 12 jam kerja mendapatkan 10 pesananan, namun saat terjadi mati listrik massal hanya mendapatkan setengahnya atau 50 persen.

Menurut dia, pemesanan penumpang maupun go food mengandalkan

dari sinyal data telekomunikasi. Namun tidak pengemudi ojol drop, ada di sejumlah wilayah yang masih mendapatan sinyal dengan baik.

Pemesanan melalui aplikasi mengandalkan sinyal data telekomunikasi. Namun kemungkinan ada wilayah-wilayah yang signalnya masih tetap sehingga bisa mendapatkan penumpang dan order go food. Sementara ada juga wilayah-wilayah yag kesulitan melakukan order karena kendala signal data terputus, papar dia.

Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengatakan, memang pemadaman listrik massal mengganggu sinyal ponsel untuk beberapa operator sehingga merugikan para pengemudi ojol.

Sinyal Internet mati hidup terus. Pasti pendapatannya juga akan turun secara otomatis. Orang jadi malas untuk pesan layanan ojek online. Lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi atau di rumah saja, ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (6/8).

Akibat mati listrik massal, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara memperkirakan operator telekomunikasi di Indonesia mengalami kerugian di atas Rp100 miliar.

Asumsi tidak bisa dihitung persisnya. Jadi satu tahun Jabodetabek pendapatannya sekitar Rp60-70 miliar, kata Rudi di Jakarta, Senin (5/8).

(din/fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 7 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami