Melemahnya Daya Beli, Industri Pasar Otomotif Lesu

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor Indonesia (GIAMM) mengungkapkan, industri otomotif tidak segairah tahun lalu. Pasalnya, pada kuartal III/2019 produksi maupun penjualan mengalami penurunan.

Hal itu disebabkan melemahnya daya beli masyarakat domestik. Pasalnya, produk domestik bruto (PDB) per kapita masih belum menembus level 4 ribu dolar Amerika Serikat (AS).

“Kondisi itu berpangaruh mobil tidak laku. Kami juga (produksi komponen otomotif) juga tidak lalu,” ujar Sekretaris Jenderal GIAMM, Hadi Surjadipraja, kemarin (4/10).

Lanjut Hadi, bahwa produski komponen otomotif negeri mengikuti kegiatan produski pada industri perakitan otomotif. Artinya, bila peneyrapan komponen otomotif rendah, maka pasar otomotif pun demikian sama.

“Artinya tidak naik-naik pertumbuhannya. Sekarang saja pasar otomotif bagaimana? Ya, jadinya sparepart-nya buat apa?,” ucap dia.

Terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, bahwa melemahnya daya beli masyarakat terhadap kendaraan karena faktor penurunan penghasilan yang disebabkan kondisi global dan perang dagang antara Cina dan AS.

“(Daya beli lemah) Di masyarakat itu ada penyesuaian. Ya ada masyarakat kita yang mengalami penurunan income yang disebabkan oleh pelemahan ekonomi global. Misal, petani sawit, kakao, kopi, yang produk-prodyknya tersebut turun. Alhasil income mereka turun, sehingga mempengaruhi permintaan mobil,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (4/10).

Faktor lainnya, menurut Piter, disebabkan karena pola hidup yang berubah terjadi pada masyarakat saat ini. Yaitu, di mana memiliki kendaraan bukan sesuatu yang mewah atau diinginkan. Sebab semua itu sudah terpenuhi melalui transportasi yang sudah memadai.

“Di masyarakat kota ada pergeseran nilai, pergeseran gaya hidup. Sekarang punya mobil bukan sesuatu yang utama. Karena keinginan mereka sudah dipenuhi seperti transportasi yang ditawarkan, banyak alternatif seperti ada ojek online, dan banyak pilihan. Di sisi lain pemerintah menyedikan saranan transportasi yang baik,” papar Piter.

Menurut dia, kondisi demikian memang lumrah terjadi. Hal itu ada periodenya, nanti di periode berikutnya akan berubah lagi. “Mereka menyukai transportasi publik, dan itu no problem. Kita akan mengalami fase-fase itu terjadi penurunan, nanti terjadi kenaikan. Jadi memang ada siklus,” tukas dia.

Melansir data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) produksi kendaraan penumpang naik 4,77 persen menjadi 99.440 unit dari 94.907 unit pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, produksi kendaraan komersial turun 15,44 persen menjadi 20.257 unit.

Sementara itu, produksi kendaraan penumpang pada JanuariAgustus 2019 turun 2,28 persen atau minus 15.885 unit dari realisasi periode yang sama tahun lalu sebanyak 693.769 unit menjadi 677.914 unit. Di samping itu, produksi kendaraan komersial anjlok 18,79 persen menjadi 153.794 unit. (fin)

  • Dipublish : 5 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami