Memilih Berutang di Saat Krisis, Pinjaman Tahun 1998 Pun Masih Dicicil

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan, ternyata Indonesia masih dibebani utang pada krisis tahun 1998 lalu. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menjelaskan, pemerintah saat itu terpaksa memutuskan berhutang karena terjebak situasi krisis yang parah.

“22 tahun yang lalu ibaratnya itu senior kita, mungkin orang tua kita yang memutuskan ketika itu udah deh kita utang aja, krisisnya ampun-ampunan,” ujarnya di media sosial instagram, Kamis (18/6).

Suahasil menyebut, utang Indonesia tahun 1998 lalu masih tercatat pada neraca Bank Indonesia (BI). “Artinya masih ada yang masih harus kita bayar sampai sekarang,” ucapnya.

Suahasil menjelaskan, pengelolaan utang saat ini jauh lebih baik dibandingkan 1998 silam. Sebab, dalam mengelola keputusan utang pemerintah melakukannya secara konseptual, teori, dan berprinsip.

“Sekarang ketika kita menghadapi Covid ini, saya merasa bahwa utang justified, memang kita utamakan pakainya sebaik mungkin, jauh deh kalau dibandingkan dengan 1998 cara kita mengelola anggaran, cara kita mengelola utang,” tuturnya.

Suahasil menambahkan, bahwa pemerintah dalam mengambil keputusan berhutang akan dipertanggungjawabkan. Sebab, hal tersebut akan disampaikan dalam laporan keuangan pemerintah, diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan(BPK) dan disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kemudian diketahui oleh publik.

“Nah ini yang harus kita pertanggungjawabkan,” tutupnya. (jp)

  • Dipublish : 18 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami