Mendikbud: Pelajar Tak Boleh Ikut Aksi Unjuk Rasa.

Ilustrasi Aksi Unjuk Rasa
Ilustrasi Aksi Unjuk Rasa
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menghimbau, bahwa siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat tidak diperbolehkan mengikuti aksi unjuk rasa.

“Bagi yang statusnya pelajar atau siswa tidak boleh ikut unjuk rasa. Apalagi kalau sampai diprovokosi,” kata Jakarta, Jumat (27/9).

Muhadjir meminta, agar guru dan kepala sekolah untuk lebih hati-hati dan waspada dalam mengawasi anak-anak didiknya di sekolah. Apalagi, sampai ada provokator yang menyusupi siswa untuk melakukan unjuk rasa.

“Baik guru, kepala sekolah, maupun orang tua. Jangan sampai orang tua tidak tahu anaknya mengikuti aksi unjuk rasa,” ujarnya.

Muhadjir mengaku, bahwa saat ini pihaknya masih fokus menyelesikan persoalan kasus para pelajar yang ikut dalam aksi unjuk rasa dan berujung anarkis. Terkait adanya pihak yang melakukan provokasi pada siswa SMA/SMK itu, ia mengatakan belum melakukan investigasi lebih jauh. Menurutnya, yang utama adalah keselamatan siswa.

“Siswa itu masih tanggung jawab guru dan orang tua, karena menurut Undang-Undang statusnya masih sebagai warga negara yang dilindungi. Belum dewasa, belum bisa mengambil keputusannya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Perlindungan Anak Dari Kekerasan Dan Eksploitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), Valentina Ginting menilai, terlibatan anak-anak dan pelajar di demonstrasi dewan perwakilan rakyat (DPR) pada Rabu (25/9) melanggar Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak 2014.

Aturan tersebut sudah mengamanatkan perlindungan anak dari kegiatan politik, dan kegiatan yang merusak serta mengandung kekerasan.

“Kementerian PPPA bersama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganggap fenomena keterlibatan anak saat demonstrasi 23-25 September 2019 kemarin menyalahi peraturan yang ada,” katanya.

Pasal 15 UU Perlindungan Anak 2014 menyatakan bahwa anak-anak itu harus dilindungi dari penyalahgunaan kegiatan politik, pelibatan dalam kerusakan sosial, dan pelibatan dalam peristiwa yang mengandung kekerasan. Untuk itu, ia mengatakan, Kementerian PPPA meminta semua pihak ikut mencegah anak-anak terlibat dalam kegiatan ini.

Kementerian PPPA sedang menelusuri sejauh mana keterlibatan anak-anak ini karena pihaknya mendapatkan laporan bahwa mereka diajak dari media sosial. Selain itu, Kementerian PPPA sudah menyambangi Polda Metro Jaya untuk memastikan seluruh anak yang masih dimintai keterangan mendapatkan perlindungan dengan baik.

Kementerian PPPA juga mengimbau jika ada orang tua masih belum menemukan buah hatinya yang terlibat demonstrasi maka diminta segera melapor ke kepolisian, Komite Perlindungan Anak, hingga Dinas PPPA. “Kami juga buka hotline pengaduan nomor 082125751234. Kami siap jika ada orang tua atau keluarga kehilangan anak bisa berkoordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Jasra Putra mengatakan, berdasarkan pantauan KPAI ke beberapa kantor kepolisian di wilayah Jabodetabek, ratusan anak-anak masih dimintai keterangan pihak berwajib.

“Sekitar 69 anak dimintai keterangan di Polda Metro Jaya, 144 anak di Polres Jakarta Barat, dan 122 anak di Polres Bogor dan 27 anak masih dimintai keterangan di jajaran kepolisian Bekasi,” tuturnya.

JIka terindikasi ada anak berhadapan dengan hukum, khususnya sebagai pelaku, dia melanjutkan, KPAI merekomendasikan supaya pihak berwajib mengembalikan anak pada orang tuanya agar dibina lebih lanjut atau dilakukan diversi untuk anak.

“Dengan demikian, anak-anak tetap dapat mengenyam bangku sekolah,” ujarnya.

Sebelumnya, terjadi aksi unjuk rasa yang dilakukan siswa SMA/SMK di depan gedung DPR pada, Rabu (25/9). Aksi unjuk rasa tersebut berakhir ricuh dan menyebabkan sejumlah siswa menjadi korban. Sebagian para korban unjuk rasa tersebut dirawat di RSAL Dr Mintohardjo dan sudah ada yang diperbolehkan untuk pulang. (fin)

  • Dipublish : 28 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami