Menghadapi Era Disrupsi Teknologi, Guru Wajib Melek Teknologi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Dalam menghadapi era disrupsi teknologi, guru ditekankan wajib meningkatan kapasitas dan literasi digital. Dengan begitu, guru diharapkan tidak lagi mengalami gagap teknologi alias ‘Gaptek’.

Untuk mendukung hal tersebut, Google telah meluncurkan program Tangkas Berinternet dalam bentuk kurikulum yang bisa diakses dengan mudah di g.co/tangkasberinternet. Menurutnya, materi Tangkas Berinternet ini juga dapat meningkatkan literasi digital anak dan orang tua.

Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Google Indonesia, Putri Alam menjelaskan, bahwa program ini juga akan diikuti dengan pelatihan kepada guru-guru, yang bakal digelar di lima kota.

“Untuk guru kita ada training lanjutan bagian dari roadshow di lima kota di Indonesia, kurikulum tersedia online,” kata Putri, Senin (10/2)

Putri menjelaskan, selain materi atau kurikulum yang bisa diakses secara gratis melalui g.co/tangkasberinternet, terdapat juga gim. Tujuannya membuat anak nyaman belajar cara berinternet, dan jika mampu menyelesaikan semua misi akan mendapatkan sertifikat dari Google.

“Permainan itu namanya Interland, anak-anak eksplore menjelajahi dunia Interland, jadi anak anak menjelajahi dunia interland ini dan akan menemukan tips berinternet , dan setiap kali mereka melewati satu poin, selain dapat poin juga dapat sertifikat,” jelasnya.

Terkait materi, Putri menjelaskan bahwa semua materi yang diadopsi dari Google be internet awesome ini sudah dikurasi, sehingga program tersebut sangat relevan dengan karakter dan kebiasaan sehari-hari di Indonesia. Materinya sendiri ada lima topik yang diangkat, yakni Cerdas, Cermat, Tangguh Bijak dan Berani Berinternet.

“Kita bawa ke Indonesia kita lokalisasikan, di-translate juga, karakter-karakter, kebiasaan sehari hari relevan di Indonesia,” sebutnya.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD DIkdasmen), Kemendikbud, Harris Iskandar menyampaikan, ini merupakan hal baik bagi anak-anak generasi masa kini agar tumbuh besar dengan teknologi.

Dengan begitu, kata dia, anak punya kemampuan literasi digital, sehingga bisa lebih peka pada informasi dan terhindar dari kejahatan siber.

“Pemahaman akan literasi digital dan keamanan online serta melatih mereka untuk menjadi lebih peka akan informasi yang mereka sebarkan atau dapatkan. Bagaimana bersikap dalam dunia maya menjadi sangatlah penting untuk mengurangi risiko kejahatan siber,” tuturnya.

Sementara itu, Plt. Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud, Gogot Suharwoto mengatakan saat ini teknologi masih sulit masuk di ruang-ruang kelas, disebabkan masih banyaknya guru-guru yang gagap teknologi (gaptek)

“Kompetensi TIK jumlah guru yang akrab dengan teknologi tak sampai 50 persen dari total guru yang ada. Itu terlihat dari pemetaan yang teranyar,” kata Gogot.

Gogot menjelaskan, bahwa pemetaan tersebut mengadopsi sistem yang diterapkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Yakni ada empat level, level satu ICT literasi, atau literasi Teknologi, Informasi, Komunikasi.

“Kedua, level ketika guru sudah mampu mengoperasikan dan mengaplikasikannya dengan mudah. Level ketiga adalah level ketika guru sudah bisa membuat konten sendiri,” sebutnya.

Level keempat, lanjut Gogot, guru sudah mampu menjadi trainer. Menurutnya, dari hasil pemetaan pihak Kemendikbud dari 28 ribu (guru) ternyata yang menguasai level 1 baru yang lolos 46%.

“Jadi memang kendala utama kompetensi menguasai masih di bawah 50 persen. Sementara untuk level kedua baru 14 persen yang bisa lolos,” terangnya. (fin/jm)

  • Dipublish : 11 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami