Menjadi Pengusaha Migas Modal Ratusan Juta dengan SPBU Mini

PERMUDAH DAPAT BBM: Sejumlah anggota komunitas sepeda motor Trex mengisi bahan bakar di Pertashop Desa Gubukktakah, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (21/10). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
PERMUDAH DAPAT BBM: Sejumlah anggota komunitas sepeda motor Trex mengisi bahan bakar di Pertashop Desa Gubukktakah, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (21/10). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Industri minyak dan gas (migas) dipandang sebagai industri eksklusif karena modal yang harus dikumpulkan untuk masuk ke lingkaran tersebut. Kini makin inklusif dengan skema kemitraan baru. Kemudahan pendirian UKM dan kemitraan dengan Pertamina membuat pengusaha skala kecil bisa menjadi pemain di industri migas di pelosok daerah.

Jaringanmedia.co.id – SEDERET sepeda motor skuter matik berkapasitas 250 cc antre di Pertashop 5P.651.17 di Desa Gubukklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Kamis (21/10). Kelompok Turtle Ride Explorer (Trex) itu mengisi BBM. Komunitas pengendara skutik asal Jakarta tersebut baru saja melewati jalur B29 Lumajang. Selama perjalanan, mereka juga bingung mencari tempat pengisian bensin. ”Beberapa sudah beli bensin eceran. Tapi, kalau ketemu tempat resmi seperti ini, ya kami langsung isi saja,” ungkap Ketua Trex Ade Afaat kepada Jawa Pos.

Bagi pencinta touring alam, keberadaan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di pelosok jelas sangat penting. Selain lebih murah, Ade merasa lebih tenang jika membeli BBM di tempat resmi. Mereka yakin kandungannya pasti aman. Karena itu, mereka rela antre meski mesin pompa di Pertashop tersebut hanya satu. ”Kalau sudah ketemu yang resmi, kami usahakan isi full tank,” ucapnya.

Pertashop yang beroperasi sejak Juli tahun ini tersebut menjadi kabar baik bagi pengendara. SPBU skala mini itu berada di kaki Gunung Bromo. Pom bensin terdekat berada di Kecamatan Tumpang yang jaraknya lebih dari 10 kilometer dari titik tersebut.

Hal itu membuat pengendara, termasuk penduduk lokal, merasa terbantu dengan keberadaan Pertashop tersebut. Aldin Aulia Rahman, pemuda asal kampung tengah Gubukklakah, merasakan manfaat dari fasilitas tersebut. ”Kalau sekolah dulu saya sering kehabisan karena medannya nanjak, Mas. Kalau sudah habis, ya terpaksa cari bensin eceran terdekat,” ujar remaja yang kini bekerja sebagai pengawas Pertashop Gubukklakah itu.

Aris Setiawan, co-owner Pertashop Gubukklakah, mengatakan bahwa usaha migasnya sebenarnya didirikan secara kebetulan. Dia awalnya ingin merintis usaha peternakan sapi dengan sang adik Aris Setiadi. Mereka pun membeli sepetak lahan lereng. ”Tapi, memang pembangunan lahan ternak itu butuh waktu lama. Saat mulai bangun, saya dengar teman lagi ngomongin soal Pertashop,” jelasnya.

Aris Setiawan pun menyampaikan ide bisnis tersebut kepada sang adik. Gayung bersambut. Aris Setiadi langsung mendaftar lewat situs Pertamina. Setelah proses persiapan, pembangunan stasiun pengisian BBM mini itu selesai pada Juni. Namun, pengoperasiannya baru bisa sebulan kemudian karena permasalahan pasokan listrik.

Aris merasa bahwa itu adalah risiko membuka usaha di wilayah pelosok. Karena listrik yang diminta merupakan jalur baru, dia wajib mempunyai rekening dengan kapasitas 16,5 kilovolt ampere (kVA). Padahal, menurut perhitungannya, Pertashop dan peternakannya hanya butuh listrik 5.500 VA. ”Selain modal Rp 250 juta untuk mesin dan BBM, saya juga harus cor area Pertashop bangun sarana pendukung. Totalnya habis sekitar Rp 400 sampai 500 juta,” ungkapnya.

Hal itu belum termasuk kebutuhan lain, misalnya genset. Sebab, lokasi tersebut rentan terjadi lampu mati. Gangguan terjadi karena jaringan listrik rentan tertimpa pohon atau benda alam lainnya. Meski begitu, Aris mengaku upayanya berbuah manis. Hanya dua bulan berjalan, dia sudah bisa menjual 600–700 liter per hari. Menurut hitungan yang disebutkan Pertamina, margin per liter untuk mitra kecil bisa mencapai Rp 850. Artinya, keuntungannya bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu per hari. ”Itu tentu belum termasuk beban operasional seperti listrik, gaji karyawan, dan lain-lain,” bebernya.

Aris juga merasa lebih senang karena usahanya pun bisa ikut membantu masyarakat lokal. Misalnya lima karyawan yang memang berasal dari daerah sekitar. Juga akses BBM yang jadi lebih mudah. Apalagi nanti jika wisata Gunung Bromo bisa dibuka kembali. Dia berharap keberadaan Pertashop miliknya bisa membuat pelaku bisnis wisata lebih mudah mendapatkan BBM. ”Salah satu alasan kami buka 24 jam karena banyak rental mobil Jeep yang harus pergi ke gunung di malam hari,” ujarnya.

Area Manager Communication Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Deden Mochammad Idhani menerangkan, tujuan skema Pertashop adalah memeratakan kesejahteraan di Indonesia. Salah satunya lewat kerja sama yang dilakukan antara Pemprov Jatim dan Pertamina untuk membangun jaringan di pondok pesantren di Jawa Timur.

Deden mengatakan, program itu sesuai dengan arahan Kementerian BUMN untuk mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Pertamina diberi target untuk bisa mendirikan seribu unit Pertashop di pondok pesantren. Jumlah tersebut 10 persen dari target tahunan, yakni 10 ribu unit. ”Dengan adanya lapangan usaha di pondok pesantren, santri diharapkan bisa membangun jiwa wirausaha. Sehingga kemandirian ekonomi umat akan tercapai,” tuturnya.

Secara nasional, saat ini sudah ada 2.848 Pertashop di Indonesia. Di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara baru ada 393 titik. Satu unitnya bisa menyalurkan BBM nonsubsidi 500–3.000 liter per hari. September lalu Pertamina sudah menggelontorkan 243 kiloliter bensin nonsubsidi dan 1 kiloliter solar nonsubsidi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kehadiran Pertashop juga diharapkan bisa mengurangi konsumsi BBM subsidi. Sehingga bakal menurunkan emisi karbon.

APA YANG DIPERLUKAN UNTUK JADI MITRA PERTASHOP?

Modal:

– Lahan minimal 100 meter persegi (10 meter x 10 meter), idealnya berukuran 15 m x 15 m

– Modal minimal Rp 230 juta sampai Rp 250 juta untuk paket mesin dan produk Pertamina

– Pemasangan listrik (untuk daerah pelosok)

Syarat:

– Memiliki izin usaha

– Mendapatkan rekomendasi dari pemerintah desa setempat

– Jalan harus bisa dilalui mobil tangki berbobot 8 ton

– Tidak ada SPBU dalam radius 10 kilometer (jpc/jm)

Diolah dari berbagai sumber

  • Dipublish : 25 Oktober 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami