Menkes Genjot Testing Covid-19, DPR Minta Semua Pihak Tidak Panik

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris meminta kepada masyarakat untuk tidak panik jika nantinya terjadi peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di dalam negeri. (dok JawaPos.com)
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris meminta kepada masyarakat untuk tidak panik jika nantinya terjadi peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di dalam negeri. (dok JawaPos.com)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pihaknya akan meggenjot pelaksanaan testing dan tracing. Sehingga bisa dipastikan nantinya terjadi peningkatan kasus Covid-19 di dalam negeri.

Karena itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris meminta kepada masyarakat untuk tidak panik jika nantinya terjadi peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di dalam negeri.

“Peningkatan kasus aktif ini hendaknya tidak membuat masyarakat panik, karena justru dengan testing dan tracing yang jauh lebih masif, kondisi rill penyebaran Covid-19 di masyarakat bisa tergambar dengan jelas, sehingga pemerintah bisa menyusun strategi penanggulangan yang benar,” ujar Charles kepada wartawan, Rabu (10/2).

Charles juga mengatakan, semua pihak harus mengakui bahwa angka kasus tercatat Covid-19 yang selama ini berdasarkan tes PCR, bukanlah angka riil. Artinya, realita jumlah angka positif di lapangan bisa jauh lebih tinggi.

“Hal ini terbukti dengan positivity rate yang tinggi sekali, bahkan sempat mencapai 30 persen lebih (6 kali lipat standar WHO 5 perse) pada Januari lalu. Angka tidak riil ini yang juga membuat pemetaan di lapangan menjadi tidak akurat, sehingga kebijakan penanganan menjadi kurang efektif,” katanya.

Selain itu, keberanian Menkes yang mengakui testing selama ini salah secara epidemologi, juga patut diapresiasi. Oleh karenanya, langkah perbaikan Menkes yang akan menggenjot testing dengan metode swab antigen terhadap 15-30 orang kontak erat per kasus aktif dalam waktu 72 jam harus didukung.

“Langkah tersebut sudah membuahkan hasil baik di India yang berpenduduk 1,4 miliar. Pada September 2020, dengan metode tersebut, India memiliki kasus baru 100.000 per hari, namun empat bulan kemudian terjun bebas ke 9.000-an atau terendah dalam 8 bulan terakhir,” ungkapnya.

DPR berharap dengan metode testing dan tracing baru, yang berjalan simultan dengan program vaksinasi, bisa meredam penyebaran Covid-19.

“Tidak boleh ada euforia ataupun kelonggaran protokol kesehatan sebelum Covid-19 benar-benar hilang dari Indonesia,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan TNI dan Polri untuk pengerahan Babinsa dan Babinkamtibnas.

Hal itu menurut Budi, untuk melakukan tracing kepada penduduk yang berkontak erat dengan pasien positif Covid-19. Sehingga ada total ada puluhan ribu personel yang dilibatkan untuk seluruh Indonesia dari proses tracing tersebut.

Dengan adanya tracing tersebut, maka Budi mengatakan kasus Covid-19 akan naik. Hal itu yang saat ini telah diterapkan di India dengan melibatkan strategi tracing yan banyak.

“Jadi saya juga sudah ingatkan ke bapak presiden, ini terjadi di India, ini strategi di India, yang terjadi nanti jumlah kasus akan naik karena akan lebih banyak yang terlihat,” katanya.

Budi berujar dengan kenaikan angka kasus positif tersebut itu adalah berdasarkan situasi yang ada di Indonesia. Sebab selama ini dia menduga angka sedikit kasus positif Covid-19 bukanlah angka sebenarnya. (jawapos.com)

  • Dipublish : 10 Februari 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami