Menkes Siapkan Relawan untuk RSUD dr Soetomo

BERI DUKUNGAN: Menkes Terawan Putranto (dua dari kiri) didampingi Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya Joni Wahyuhadi di RS kemarin (24/6). (Robertus Risky/ Jawa Pos)
BERI DUKUNGAN: Menkes Terawan Putranto (dua dari kiri) didampingi Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya Joni Wahyuhadi di RS kemarin (24/6). (Robertus Risky/ Jawa Pos)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengunjungi RSUD dr Soetomo Surabaya kemarin (24/6). Mewakili Presiden Joko Widodo (Jokowi), Terawan memberikan penghargaan kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang telah berpulang dalam tugasnya menangani Covid-19.

Suasana ruangan Loka Widya Husada lantai 2 di rumah sakit milik Pemprov Jawa Timur itu pun menjadi haru.

Penghargaan diserahkan kepada almarhum dr Miftah Fawzy Sarengat yang diwakili sejawat residen, dr Gatot Pramono yang diwakili sang istri Aprilia Devina, dan perawat Sri Agustin yang diterima putrinya, Chiara. Istri dr Miftah yang juga seorang dokter itu tidak bisa hadir karena masih menjalani perawatan penyembuhan Covid-19. ”Saya sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang begitu perhatian kepada kami,” ujar Aprilia dengan suara bergetar menahan tangis.

Aprilia mengatakan, suaminya adalah sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Tidak kenal lelah dan selalu memprioritaskan pasien. ”Meskipun sakit, suami saya tetap nekat ke rumah sakit dan menyembuhkan pasien-pasiennya,” ucap dia.

Aprilia berterima kasih kepada RSUD dr Soetomo yang menurutnya telah memberikan perhatian sejak awal suaminya sakit hingga berpulang. Perawatan yang diberikan optimal. Termasuk memberikan penghormatan terakhir saat jenazah dr Gatot dibawa meninggalkan RS. ”Saya mohon doanya agar diberi kekuatan dan ketabahan. Karena semua ini berjalan begitu cepat. Saya berharap para dokter juga harus tahu kapasitas kemampuannya dalam menangani pasien,” tuturnya.

Melihat beban kerja yang ditanggung RSUD dr Soetomo, Menkes Terawan menyiapkan tenaga relawan. ”Sebanyak 20 relawan gelombang pertama. Bisa dokter atau perawat. Agar mengurangi beban Dirut RSUD dr Soetomo dan supaya ada relaksasi. Tentunya kami juga mendidik relawan agar tidak menjadi positif Covid-19,” jelasnya.

Menurut Terawan, penanganan Covid-19 di Surabaya pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya sudah bagus. Namun, dia meminta ada pemisahan kondisi. Pasien ringan, sedang, dan berat semestinya berada di tempat berbeda. Kalau sudah begitu, RSUD dr Soetomo bisa berkonsentrasi dalam menangani pasien berat sehingga potensi pasien yang diselamatkan makin besar. ”Yang tidak ada gejala atau OTG diisolasi mandiri. Yang pasien sedang bisa dirawat di RS lapangan saja,” ujarnya menyebut RS darurat yang ada di Jalan Indrapura, Surabaya.

Terkait peningkatan kasus yang tinggi di Surabaya, lanjut Terawan, pihaknya akan mengurai pokok permasalahan. Jika hal itu disebabkan protokol kesehatannya, harus ada kebijakan tegas. Protokol kesehatan tersebut harus sudah menjadi budaya seluruh penduduk dalam menjalankan kehidupan selama pandemi Covid-19. ”Baik di lingkungan rumah maupun pekerjaan harus menjalankan protokol kesehatan,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya dr Joni Wahyuhadi SpBS (K) mengatakan, saat ini pihaknya terus berupaya meningkatkan pelayanan pasien Covid-19 dan menekan transmisi terhadap para nakes. Kondisi yang terjadi memang hampir di semua rumah sakit yang menjadi rujukan Covid-19 terdapat nakes yang terkonfirmasi Covid-19.

Berdasar data gugus tugas Covid-19, di Jawa Timur total ada 273 nakes yang terkonfirmasi positif. Perinciannya, meninggal 6 orang, sembuh 181 orang, dan dirawat 86 orang. ”Di RSUD dr Soetomo sendiri paling banyak justru tenaga administrasi. Mereka tidak menangani langsung pasien Covid-19,” katanya.

Joni mengungkapkan, banyak yang mengeluhkan kondisi IGD RSUD dr Soetomo. Areanya memang kecil, tak jauh berbeda dengan desain lama bangunan peninggalan Jepang itu. Namun, pengunjungnya sangat banyak. Sekitar 100 hingga 300 orang per hari. ”Di situasi seperti ini, yang suspect Covid-19, ada 20 sampai 30 orang per hari,” ucapnya.

Untuk itu, pihaknya berencana memisahkan IGD untuk pasien Covid-19 dan non-Covid-19. ”Selama pembangunan itu, kami akan berkoordinasi dengan RSUA dan RSAL untuk menangani pasien sementara. Setelah selesai, RSUD dr Soetomo akan memulai pelayanan kembali,” kata dia.

Dari RSUD dr Soetomo, sorenya Terawan bersama Ketua BNPB Doni Monardo dan Menko Polhukam Mahfud MD berkunjung ke Gedung Negara Grahadi. Mereka diterima Gubernur Khofifah Indar Parawansa beserta Forkopimda Jawa Timur.

Khofifah menyampaikan pola penanganan Covid-19 di Jawa Timur. Termasuk kondisi pasca penerapan PSBB. Di Surabaya, menurut dia, masih banyak yang belum menerapkan disiplin. Hasil survei akademisi menyebutkan, masih banyak orang yang tidak memakai masker. Social dan physical distancing juga belum maksimal. ”Ini paparan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Doni Monardo juga menyampaikan perkembangan pengajuan penambahan anggaran untuk Pemprov Jawa Timur. Dia menjanjikan permohonan itu segera diproses. Pengajuan penambahan anggaran disampaikan Khofifah pada malam Lebaran. Nilainya sekitar Rp 40 miliar. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pengoperasian rumah sakit darurat di Surabaya.

Kunjungan itu juga dilakukan dalam rangka persiapan menyambut kunjungan presiden hari ini. Menurut jadwal, Presiden Jokowi akan berkunjung ke Grahadi, lalu melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. (jp)

  • Dipublish : 25 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami