Mentan: Perubahan Iklim Bakal Buat Beras Indonesia Diminati Negara Lain

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendorong Jeneponto menjadi salah satu kabupaten sentra ternak berkualitas di Sulsel. Foto; Kementan.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendorong Jeneponto menjadi salah satu kabupaten sentra ternak berkualitas di Sulsel. Foto; Kementan.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan, tahun ini dan tahun depan seluruh dunia akan membutuhkan beras Indonesia. Pasalnya, bakal terjadi perubahan iklim (climate change) di seluruh dunia sehingga diprediksi beberapa negara mengalami permasalahan pangan yang akan menyebabkan kecenderungan harga beras naik.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Pertemuan Koordinasi Serap Gabah bersama kepala dinas pertanian provinsi dan kabupaten se Indonesia, stakeholder dan perbankan yang dilakukan secara online di Ruang AWR, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta (20/4).

Oleh karena itu, konsep stok atau gudang penyimpanan beras rakyat harus dihidupkan baik pada skala tradisional rumah tangga, kabupaten, hingga skala provinsi melalui Bulog.

“Saya akan terus memonitor jika ada persoalan di tingkat kabupaten. Apabila ada gejolak harga segera dikomunikasikan ke saya dan lapor kepada satgas bilamana ada permainan harga,” kata Syahrul.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menambahkan, pihaknya bersama stakeholder terkait telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menyerap gabah petani dan menstabilkan harga gabah petani melalui beberapa strategi. Di antaranya yakni melakukan pemetaan wilayah panen dan harga pergerakan harga sesuai HPP (merah, kuning, hijau). Selain itu, membentuk Tim Serap Gabah Petani (SGP) yang terdiri dari Komando Strategi Penggilingan (Kostraling), Bank, Distan, Dandim, Satgas Pangan Polres, RNI/Pertani, Bulog.

Upaya lainya, menyusun target serap gabah setiap kabupaten, membuat komitmen perjanjian serap gabah dengan Gapoktan atau Kostraling.

“Tim Serap Gabah Petani turun ke lapangan membeli gabah dan kontrak jual-beli Gapoktan atau Kostraling dengan Mitra,” tuturnya. Suwandi menyebut, sesuai arahan, penanganan pascapanen menjadi hal utama dalam merespons dengan baik masa panen raya padi sehingga petani mendapatkan hasil gabah yang berkualitas dan bernilai jual tinggi.

Di sisi lain, Kementan telah memberikan bantuan pascapanen bagi petani yang tergabung dalam Gapoktan dan Kostraling.

“Bantuan dan kredit KUR untuk dryer, penggilingan, packaging dan gudang penyimpanan sehingga petani juga dapat menjual beras atau gabah saat musim kemarau beberapa bulan ke depan atau saat harga di atas HPP,” ujar Suwandi. (cr3/jpnn)

  • Dipublish : 21 April 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami