Menteri Agama: Kurikulum Pendidikan Jangan Terpapar Radikalisme

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi menegaskan, bahwa tidak boleh ada kurikulum pendidikan yang memancing radikalisme, hingga menyesatkan pemahaman tentang agama.

“Tidak ada kurikulum yang memancing radikalisme, menyesatkan pemahaman tentang agama. Dalam Islam dikenal dengan rahmatan lil alamin,” kata Fachrul di Jakarta, Jumat (25/10)

Fachrul menegaskan, Kementerian Agama akan bersikap tegas terhadap tindakan-tindakan yang merisaukan masyarakat. Aparat hukum juga akan mengambil penegakan hukum sekiranya ada tindakan yang ekstrem.

“Kita tegas tentang masalah ini. Saya berharap umat beragama dapat duduk bersama untuk membangun bangsa,” ujarnya.

Untuk itu Fachrul mengimbau, janagnan sampai menimbulkan kekerasan yang tidak pantas, tapi mengajak dari hati kehati untuk bersikap toleran, damai, dan menghindari kata-kata yang memancing permusuhan.

“Jika tidak mau dihimbau kita ambil langkah yang lebih jauh, misal tegakkan aturan hukum,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto mengusulkan supaya kurikulum pendidikan di Indonesia memuat pengetahuan tentang melawan radikalisme. Hal ini untuk memastikan supaya anak terlindungi dari infiltrasi tindakan radikal.

“Usul ini sudah kami disampaikan ke pihak terkait, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudataan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag), hingga Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti),” kata Susanto.

Menurut Susanto, saat ini kecenderungan infiltrasi radikalisme pada anak sudah bergeser. Sebelumnya, infiltrasi banyak menggunakan oknum guru atau jaringan-jaringan lain yang mudah terdeteksi.

“Saat ini, infiltrasi radikalisme justru memasuki ruang keluarga, seperti melalui orang tua,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Susanto, perlu ada strategi-strategi lain untuk mencegah infiltrasi radikalisme pada anak masuk melalui pihak yang tak terdeteksi.

“Harus ada metode baru dan strategi baru untuk mendeteksi infiltrasi radikalisme yang dilakukan oleh orang tua pada anak. Karena memang kalau polanya berubah, maka strateginya juga berubah,” pungkasnya.

(fin)

  • Dipublish : 26 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami