Meugang, Tradisi Sambut Ramadan di Aceh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

ACEH,- Tradisi yang cukup kental dan hingga kini masih berdenyut di tengah-tengah masyarakat Aceh menjelang pelaksanaan puasa Ramadan adalah meugang (penyembelihan hewan ternak) sapi atau kerbau. Tidak heran, jika harga daging sapi atau kerbau di Aceh melangit dan klimaksnya terkadang mencapai Rp 200 ribu per kilogram. Padahal jumlah ternak yang disembelih pedagang bisa naik 1.000 persen dari hari biasa.

Harga daging segar pada hari-hari biasa berkisar Rp 120.000 sampai Rp 130.000 per kilogram. Penjualnya juga terbatas di pasar resmi dan beberapa di pinggir jalan. Pada hari meugang (sehari atau dua hari) menjelang puasa Ramadan, pasar-pasar kaget menjamur di pinggir jalan dan dipadati warga untuk membeli daging sapi atau daging kerbau.

Namun, sedikit berbeda dengan meugang menyambut puasa Ramadan 1441 Hijriah atau 2020 Masehi. Jumlah ternak yang disembelih hingga daya beli masyarakat menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Azis Awee, pedagang daging di Pasar Tradisional Lambaro, Aceh Besar, mengaku, daya beli masyarakat pada hari meugang tahun ini menurun sekitar  50 persen dibandingkan menjelang puasa tahun-tahun sebelumnya. Jumlah sapi yang disembelih untuk dijual dagingnya pada tahun ini hanya enam ekor, sementara pada hari meugang tahun-tahun sebelumnya mencapai 12 ekor.

”Wabah corona membuat lemahnya daya beli masyarakat akibat dari pendapatan yang berkurang. Harapan saya agar wabah Covid-19 bisa berakhir,” kata Azis seperti dilansir dari Antara.

Sementara itu, pemerhati sejarah Aceh Tarmizi A. Hamid menilai, wabah korona tidak menyurutkan kebiasaan masyarakat Aceh merayakan tradisi meugang bersama keluarga di kampung-kampung. ”Masyarakat tetap melaksanakan tradisi meugang menyambut puasa. Namun, mungkin agak terbatas karena faktor ekonomi yang terganggu akibat Covid-19,” kata Tarmizi.

Masyarakat Aceh terutama aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN dan TNI/Polri tidak diperbolehkan mudik ke kampung halaman di tengah pandemi Covid-19. ”Makna hakiki dari meugang itu adalah menyantap atau makan bersama keluarga besar. Bagi warga di perantauan yang masih memiliki orang tua, dipastikan pulang kampung di hari meugang seraya saling maaf memaafkan di antara mereka,” kata Tarmizi.

Menjelang puasa tahun ini, kata dia, meugang kesannya kurang meriah. Sebab, dunia sedang dilanda masalah wabah virus korona. Kondisi ekonomi masyarakat sebagai dampak pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu penyebab kurang meriahnya tradisi meugang di tengah-tengah masyarakat Aceh dalam menyambut bulan puasa tahun ini.

Meski masih dalam zona hijau Covid-19, masyarakat diimbau untuk tetap mendukung upaya pemerintah dalam menekan penyebaran virus korona di Provinsi Aceh. Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah selalu mengimbau agar masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, kurangi aktivitas fisik di luar rumah, tetap bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Nova meminta warga menghindari pusat keramaian, fasilitas umum, termasuk aktivitas keagamaan yang melibatkan orang banyak.

Data dari website Covid-19 Pemerintah Aceh, sekitar pukul 15.00 WIB (22 April), disebutkan positif korona tujuh orang, satu meninggal dunia, empat sembuh, dan dua dalam perawatan. Selanjutnya, total ODP 1.671 jiwa dan PDP tercatat 67 orang. (jp)

  • Dipublish : 24 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami