Minim Kunjungan Wisata, Menparekraf Kaji Ulang Kebijakan Negara Bebas Visa ke Indonesia

Ilustrasi
Ilustrasi
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

TANGERANG – Kunjungan wisatawan manacanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang 2019 kurang menggembirakan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama akan meninjau kembali atau me-review tentang pembebasan visa kunjungan 169 negara ke Indonesia.

Kebijakan bebas kunjungan ini telah diterapkan sejak tahun 2019, dengan merujuk Peratuan Presiden Nomor 21 Tahun 2016.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman pada November 2019 sebanyak 1,29 juta orang. Angka ini turun 4,67 persen dibandingan periode bulan sebelumnya.

“Akan kita review, karena banyak negara-negara yang bebas visa tapi tidak menghasilkan wisatawan (berkualitas),” katanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, kemarin (16/1).

Sejauh ini, kata dia, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi terkait membahas aturan bebas visa kunjungan tersebut.

Tahun 2020, Menparekraf menginginkan akan memfokuskan menghasilkan dari wisman. Artinya, bukan hanya mengejar kuantitas namun juga yang utama kualitas.

“Ke depan, yang perlu kita tingkatkan adalah kualitas daripada wisatawan karena kan tujuan kita adalah untuk mendatangkan devisa. Yang penting adalah devisanya yang masuk lebih banyak,” ujar dia.

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio menilai ada yang salah dalah strategi pengembangan dan optimalisasi sektor pariwisata, salah satunya soal pemberian visa bebas kunjungan kepada 169 negara. “Pemberlakuan bebas visa non-reciprocality ke 169 negara inilah salah satu yang merugikan Indonesia,” kata Agus.

Kelemahan lainnya adalah belum mampu mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) di banyak kawasan wisata. Termasuk, pada sepuluh destinasi wisata unggulan dan lima destinasi wisata super prioritas.

Selain itu, dia menyoroti lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah di mana lokasi-lokasi itu berada, dan ini menjadi kendala bagaimana sektor pariwisata bisa membuat wisman tertarik.

Nah, alhasil dana yang digelontorkan tidak sedikit itu menjadi sia-sia. Dia mencontohkan, Indonesia bisa mencontoh negara Vietnam, di mana hanya lewat media sosial dan di bandara-bandara namun hasilnya sangat signifikan.

Sebelumnya, Kepala BPS menyebutkan penurunan jumlah kunjungan wispan ke Indonesia pada November 2019 yang hanya 1,29 juta orang lantaran yang wajar karena November merupakan low season dan akan terjadi kenaikan pada Desember.

“Ini karena faktor musiman seperti tahun sebelumnya. Tapi secara tahunan jumlah wisman ada peningkatan,” kata Suhariyanto.(fin/jm)

  • Dipublish : 18 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami