Moeldoko : Ada Provokasi Yang Memicu Terjadinya Kerusuhan di Wamena

FOTO: SESKAB TAHAN EMOSI: Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memberikan keterangan terkait rusuh Wamena, kemarin (23/9).
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA –Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, disikapi dengan cara-cara proporsional dan profesional. Total empat orang tewas dalam peristiwa tersebut, termasuk satu anggota TNI yang gugur akibat luka bacokan.

“Jangan sampai penyelesaian itu membangun dengan emosi yang pada akhirnya aparat itu melakukan tindakan-tindakan yang uncontrol, itu yang tidak kita inginkan,” kata Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjawab wartawan usai mengikuti rapat intern dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin (23/9).

Moeldoko mengakui jika dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena terdapat korban, termasuk di pihak aparat keamanan, yaitu TNI dan Polri. Namun Moeldoko menegaskan, tidak ada instruksi bagi aparat untuk melakukan tindakan represif dalam menangani kerusuhan di Wamena itu.

“Semuanya diminta untuk menahan diri, karena ini sangat berkaitan dengan apa yang terjadi di PBB. Jadi jangan kita memunculkan situasi yang tidak bagus. Jadi semuanya harus terkontrol dengan baik aparat keamanan, tidak ada langkah-langkah yang eksesif, tetapi juga keamanan menjadi kebutuhan bersama,” jelas Moeldoko.

Pemicunya kabar hoaks kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, menurut Moeldoko dipicu adanya isu ada seorang guru yang melakukan rasis. Padahal, menurutnya, itu ndak. Kapolri tadi mengatakan tidak ada itu. Sudah dicek ke sekolahan itu tidak yang terjadi seperti itu. “Tapi begini ya, karena situasi ini, sekali lagi, situasi ini adalah situasi yang diprovokasi dalam rangka menciptakan situasi untuk konsumsi,” kata Moeldoko.

Ditegaskannya, seluruh elemenharus menyikapi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nanti kita juga ikut terbawa emosi, terpancing dan seterusnya. “Kita sudah menyampaikan hal itu kepada aparat keamanan di wilayah,” tegasnya.

Ia menduga adanya provokasi yang memicu terjadinya kerusuhan di Wamena. Harapannya, aparat dipancing untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat sehingga nanti di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agenda itu bisa dimaasukan. “Kita sudah tahu agendanya ke mana ya,” jelasnya.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebutkan aparat keamanan masih terus melakukan penanganan pascaricuh yang terjadi di Wamena, Papua. “Sekarang masih terus ya penanganan dilakukan aparat keamanan, yah, terutama di Wamena ada pembakaran dan sudah ada korban juga dari kedua belah pihak,” kata Wiranto kepada wartawan di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, kemarin.

Wiranto tidak menjelaskan secara perinci situasi keamanan di Papua, khususnya di Wamena. “Secara perinci nanti karena disampaikan oleh Humas Mabes Polri atau besok setelah kita dapat laporan lengkap kami sampaikan kepada masyarakat agar tidak ada kekeliruan,” kata Wiranto.

Mantan Panglima ABRI ini menginginkan agar penjelasan terkait dengan kericuhan di Wamena akan dilakukan secara profesional dan tidak sembarangan. “Karena ini menyangkut keamanan nasional,” tuturnya.

Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Pol. Rudolf Rodja menyebutkan empat orang meninggal akibat demo anarkis yang terjadi di Waena, kemarin, termasuk seorang anggota TNI AD. “Benar dari empat orang yang meninggal, termasuk tiga warga sipil dan satu anggota TNI AD. Pada saat ini, jenazahnya masih di RS Bhayangkara,” kata Kapolda.

Penyebab kematian ketiga warga sipil itu, kata Kapolda, belum dapat dipastikan karena masih diperiksa dokter. Ia menyebutkan penyebab kematian Praka Zulkifli, anggota Yonif 751 Raider, akibat luka-luka diduga terkena benda tajam dan lemparan batu.

Dari laporan yang diterimanya, terungkap aksi anarkis yang dilakukan pedemo itu terjadi di kawasan Expo, Waena saat mereka dipulangkan dari halaman Universitas Cenderawasih dengan menggunakan 15 truk. Namun, saat melintas di Jembatan Waena, mereka minta diturunkan, lantas menyerang anggota TNI AD yang sedang sarapan. “Usai menyerang, pedemo melarikan diri ke kawasan Expo sambil menyerang pasukan,” jelas Irjen Pol. Rodja yang pernah sebagai Kapolda Papua Barat itu. (fin)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 24 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami