Molnupiravir, Kandidat Baru Obat Covid-19? Begini Faktanya

Ilustrasi molnupirvir (AFP)
Ilustrasi molnupirvir (AFP)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Beberapa hari terakhir ini, molnupiravir banyak dibicarakan dan digadang-gadang sebagai obat baru yang ampuh untuk Covid-19. Namun, benarkah demikian?

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zullies Ikawati menjelaskan, bahwa informasi mengenai obat ini sebenarnya telah beredar sejak bulan Maret hingga April 2020.

Obat ini disebut memiliki efek hingga 100 persen saat uji klinis fase tiga. kemudian bila berjalan dengan baik, obat ini disebut-sebut akan tersedia di pasar dalam waktu 4 sampai 5 bulan. Pasien bisa minum obat sendiri di rumah, dan sembuh dalam 5 hari, sehingga sangat nyaman digunakan sama seperti mengobati flu biasa seperti sekarang.

“Sangat menjanjikan bukan? Nah, pada awal Oktober 2021 ini, informasi tentang obat itu kembali mengemuka, setelah perusahaan farmasi Merck melaporkan pada lamannya perkembangan uji klinik obat tersebut, yang disebut-sebut hasilnya cukup menjanjikan,” jelas Zullies dalam keterangannya Sabtu.

Lantas apa sebetulnya molnupiravir itu?

Molnupiravir adalah obat antivirus yang awalnya dikembangkan oleh Emory (University) Institute for Drug Discovery (EIDD) dalam rangka penemuan obat untuk Venezuelan equine encephalitis virus.

“Senyawa obat ini merupakan analog nucleoside cytidine, yang dapat menyusup rantai RNA dan menghambat sintesis RNA virus melalui penghambatan enzim RdRp (RNA-dependent RNA Polymerase), yang pada gilirannya menghambat replikasi virus,” jelas Zullies.

Uji klinik fase 1 telah dilakukan tahun 2019 untuk aspek keamanannya. Ketika ada pandemi Covid-19, maka obat ini diujikan untuk virus SARS-CoV-2, di mana hasilnya menunjukkan potensi antiviral in vitro dan in vivo.

Dalam perkembangan selanjutnya, EIDD bekerja sama dengan dua perusahaan farmasi besar, Ridgeback Biotherapeutics di Jerman dan Merck di Amerika Serikat untuk melakukan uji klinik fase 2 dan 3 pada pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap di rumah sakit.

Molnupiravir diujikan secara klinis pada pasien rawat inap (nama ujinya MOVe-IN) dan pasien rawat jalan (MOVe-OUT). Namun demikian, uji MOVe-IN telah dihentikan karena hasilnya yang kurang memenuhi harapan.

Selanjutnya diteruskan untuk uji MOVe-OUT, yang menggunakan subyek dengan kriteria terkonfirmasi Covid-19 dengan gejala ringan-sedang yang tidak dirawat di rumah sakit, dengan usia 18 tahun ke atas.

Menurut Clinical Trial, dalam laporan resmi di lamannya, menyebutkan bahwa uji MOVe-OUT dimulai pada 19 Oktober 2020 dan diharapkan selesai pada 8 November 2021.

Uji ini merencanakan akan merekrut 1.850 orang subyek, yang dilakukan pada 170 tempat penelitian di beberapa negara. Namun, uji klinik saat ini sudah berhenti merekrut subyek setelah mencapai kurang lebih 1.550 subyek, yang berarti lebih dari 90 persen dari rencana, karena dianggap hasilnya sudah cukup baik.

Adapun kriteria efikasi dari obat ini adalah kemampuannya untuk menurunkan risiko perburukan Covid-19 maupun kematian, dibandingkan dengan plasebo.

Data yang tersedia saat ini adalah berasal dari analisis interim atau analisis sementara, yang mengevaluasi data dari 762 pasien yang terdaftar dalam uji MOVe-OUT Fase 3 atau sebelum 5 Agustus 2021. Hasil analisis interim menunjukkan bahwa molnupiravir dapat mengurangi risiko perburukan Covid-19 yang membutuhkan perawatan di RS dan atau kematian, dalam pengamatan selama 29 hari, sampai kurang lebih 50 persen.

Angka itu diperoleh dari membandingkan persentase subyek yang mengalami perburukan pada kelompok molnupiravir yaitu 7,3 persen (28/385) dengan kelompok plasebo yang mencapai angka 14,1 persen (53/337).

Pada kelompok molnupiravir tidak dijumpai kematian, sedangkan pada kelompok placebo dijumpai 8 kasus kematian akibat Covid-19. Berdasarkan analisis subkelompok, molnupiravir dapat mengurangi risiko rawat inap dan atau kematian di semua subkelompok utama, kemanjurannya tidak terpengaruh oleh waktu timbulnya gejala atau faktor risiko yang mendasarinya.

Selain itu, berdasarkan identifikasi terhadap macam varian virus yang menginfeksi subyek, terdapat 40 persen subyek yang terindikasi terinfeksi virus varian baru (Gamma, Delta dan Mu), sehingga pihak Merck mengklaim bahwa molnupiravir menunjukkan kemanjuran yang konsisten di seluruh varian virus Gamma, Delta, dan Mu.

Kendati demikian Zullies menegaskan bahwa laporan secara rinci terkait jenis adverse event-nya belum ada, tetapi dilaporkan bahwa insiden kejadian tak diinginkan (adverse event) adalah sebanding pada kelompok molnupiravir dan plasebo (masing-masing 35 persen dan 40 persen).

“Demikian pula, kejadian efek samping terkait obat juga sebanding (12 persen dan 11 persen masing-masing). Bahkan, lebih sedikit subyek yang drop out dari uji klinik akibat adverse event pada kelompok molnupiravir (1,3 persen) dibandingkan dengan kelompok plasebo (3,4 persen),” jelas Zullies. (*)

  • Dipublish : 11 Oktober 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami