Mulai 1 April 2020, Harga Gas Turun Jadi USD 6

Ilustrasi pipa gas bumi (Dok. PGN)
Ilustrasi pipa gas bumi (Dok. PGN)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Pemerintah akan menurunkan harga gas bumi menjadi USD 6 per MMBTU di plant gate (tenaga listrik) konsumen pada 1 April mendatang. Meskipun turun, hal ini tidak akan mengurangi besaran penerimaan kontraktor minyak dan gas (migas).

Penurunan harga gas ini akan mendorong terciptanya multiplier effect dan pertumbuhan ekonomi, termasuk penciptaan lapangan kerja baru. Selain itu, hal ini akan meningkatkan daya saing industri untuk eskpor dan substitusi impor, serta menjaga keberlangsungan industri pupuk dalam rangka swasembada dan ketahanan pangan nasional.

“Rencana penurunan harga gas menjadi US$6 (per mmbtu) mengikuti Perpres Nomor 40 tahun 2016. Untuk bisa menyesuaikan harga USD 6 per MMBTU tersebut, maka harga gas di hulu harus bisa diturunkan antara USD 4-4,5 per MMBTU, dan biaya transportasi dan distribusi bisa diturunkan antara USD 1,5-2 per MMBTU,” terang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Kamis (19/3).

Dalam rangka menyediakan listrik yang terjangkau bagi masyarakat dan pertumbuhan industry, kebijakan ini pun diambil oleh pemerintah. Menurut Arifin, penurunan harga gas untuk industri termasuk pupuk dan PLN ini tidak akan menambah beban keuangan negara.

Meski akan ada pengurangan dari sisi penerimaan pendapatan pemerintah di hulu migas, namun terdapat tambahan pendapatan pemerintah dari pajak dan dividen, penghematan subsidi listrik, pupuk dan kompensasi PLN, serta terdapat penghematan karena konversi pembangkit listrik dari diesel ke gas.

“Tentu saja konsekuensinya dibidang hulu gas, penerimaan pemerintah bisa berkurang tapi ini bisa dikompensasi dengan pengurangan biaya subsidi dan (pengurangan) biaya kompensasi (PLN), dan kontribusi dari peningkatan pajak dan deviden. Juga terdapat penghematan dari konversi bahan bakar pembangkit listrik dari diesel ke gas,” ungkapnya.

Penurunan pendapatan dari segi transportasi dan distribusi gas akan dikompensasi, antara lain dengan jaminan pasokan gas, tambahan pasokan gas dan efisiensi perusahaan. “Terkait dengan biaya transportasi gas, kami juga telah melakukan pembahasan dengan transporter gas utama, jadi investasi yang sudah 10 sampai 12 tahun beroperasi memiliki nilai depresiasi yang bisa dipertimbangkan, dan melakukan efisiensi di perusahaan sendiri dengan kontribusi yang signifikan. Kami juga mengupayakan agar kebutuhan aliran gas (alokasi gas) untuk bisa memenuhi kapasitas pipanya kita siapkan. Kami menghimbau agar transporter gas bisa membuka akses kepada supplier gas yang lain, supaya volume-nya juga bisa dioptimalkan lebih banyak lagi,” tambah dia.

Arifin juga menegaskan bahwa sumber gas Indonesia masih cukup banyak dan juga terdapat sumber gas dari lapangan Sakakemang yang beroperasi tahun 2021. Kemudian tahun 2023, terdapat gas yang selama ini dijual ke luar negeri akan dialokasikan untuk dalam negeri.

“Kemudian kita akan terus mengembangkan infrastruktur gas. Kita harus bisa memasang jaringan pipa dari Aceh sampai ke Jawa Timur, kemudian di Sulawesi maupun di Kalimantan. Ini membutuhkan waktu hingga 2 hingga 3 tahun. Selain pipa kita juga harus bisa memiliki lagi receiving terminal sehingga LNG tersebut bisa ditampung di Receiving terminal untuk bisa didistribusikan kepada pemakai,” tutup dia. (jp)

  • Dipublish : 19 Maret 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami