Muncul Klaster Covid-19 Perkantoran, Demokrat: Ini Sungguh Ironis

Petugas medis mengambil sampel warga saat tes diagnostik cepat (rapid test) COVID-19. Saat ini klaster perkantoran menyumbang jumlah pasien yang cukup banyak. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Petugas medis mengambil sampel warga saat tes diagnostik cepat (rapid test) COVID-19. Saat ini klaster perkantoran menyumbang jumlah pasien yang cukup banyak. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo menilai, tren perkantoran sebagai klaster baru penyebaran Covid-19 adalah sebuah ironi. Pasalnya area perkantoran itu sendiri dihuni orang yang berpendikan serta memahami apa dan bagaimana protokol kesehatan Covid-19. .

“Saya mengatakan kenyataan ini sangat ironis. Mereka yang kerja di kantor itu umumnya berpendidikan. Semestinya mereka sudah paham bagaimana seharusnya menyikapi ancaman Covid-19 ini. Tapi kan kenyataannya, banyak perkantoran yang kini menjadi klaster baru, khususnya di Jakarta,” kata Rahmad Handoyo kepada wartawan, Kamis (30/7).

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengatakan, sebelum vaksin ditemukan, kunci kemenangan dalam perang melawan Covid-19 hanya satu, yakni displin yang tinggi. Mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah, menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan.

“Kalau , protokol kesehatan, misalnya jaga jarak, penggunaan masker dan anjuran untuk mencuci tangan pun terabaikan atau dianggap remeh, ya itu namanya teledor. Akhirnya, ya begini jadinya,” katanya.

Rahmad mengatakan, maraknya penyebaran Covid-19 diperkantoran ini merupakan keprihatinan bersama. Semua pihak, dalam hal ini pihak perusahaan, karyawan harus bersama-sama meningkatkan kewaspadaan.

“Saya ingin mengimbau, khususnya kepada para pekerja dikantoran, mulai lah  mendisplinkan diri sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Kenyataan yang menghawatirkan ini harus jadi proses pembelajaran bersama agar kasus klaster perkantoran ini tidak meledak kembali dan semakin parah,” ungkapnya.

Rahmad juga mengatakan, dalam menghadapi pandemi banyak hal yang semestinya jadi bahan evaluasi. Dikatakan, peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang airborne yakni penularan virus lewat udara juga harus menjadi perhatian.

“WHO sudah mengatakan tentang airborne, karena itu sirkulasi diudara juga harus diperhatikan. Pokoknya semua protokol kesehatan yang dianjurkan WHO dan pemerintah itu harus benar-benar dijalankan,” ungkapnya.

“Jangan salah, justru hal sepele, seperti membuka masker saat rapat, hal seperti ini berpotensi menjadi penyebaran virus corona dari orang terpapar tanpa gejala (OTG).  Akhirnya, perusahaan jadi klaster baru,” tuturnya.

Diingatkan Rahmad, sesuai data yang dikeluarkan Gugus Tugas, di Jakarta sebanyak 66 persen orang yang terpapar virus Korona tertular dari orang tanpa gejala (OTG). Karena itu, katanya, saat rapat di kantor, masker sering dibuka. Padahal, saat masker terbuka itu lah virus menyebar.

Diketahui, beberapa hari terakhir, klaster perkantoran menyumbang angka kasus infeksi Covid-19 terbanyak di Indonesia. Di Jakarta, ada 59 kantor terpapar Covid-19. Dari ke-59 klaster kantor tersebut di antaranya ada 17 kementerian.‎ (jp)

  • Dipublish : 30 Juli 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami