Nadiem Makarim Pelit Bicara Program Pendidikan

Mendikbud RI, Nadiem Makarim. Foto: Faisal R Syam
Mendikbud RI, Nadiem Makarim. Foto: Faisal R Syam
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim masih belum mau banyak bicara mengenai program pendidikan dan kebudayaan ke depan.

Mantan CEO Gojek itu lebih semangat untuk bertemu dengan para guru saat acara Temu Pendidik Nusantara di Jakarta, Sabtu (26/10). “Jadi walaupun baru hari ketiga, saya di kerjaan ini, tapi setiap kali interaksi sama guru semangat saya semakin tinggi,” kata Nadiem.

Sikap Nadiem enggan membocorkan program pendidikan kedepannya bukan kali ini saja. Di sejumlah kesempatan yang juga memilih sikap yang sama dengan adalan sedang mempelajari kondisi yanga da di kementerian yang dinaunginya.

Terpisah, Forum Rektor Indonesia (FRI) berharap Mendikbud, Nadiem Makarim mengeluarkan terobosan-terobosan demi memajukan dunia pendidikan, khususnya di pendidikan tinggi.

“Sehingga gagasan-gagasan dari perguruan tinggi untuk katakan membuat program atau ide-ide baru itu tidak harus terlalu berbelit-belit perizinannya, karena menyusahkan dan menghambat,” ujar Wakil Ketua Dewan Pertimbangan FRI, Asep Saefuddin.

Dia juga meminta Menteri Nadiem untuk memangkas perguruan tinggi yang terbilang cukup banyak yakni mencapai lebih dari 4 ribu perguruan tinggi. Kondisi demikian sudah tidak layak.

“Apakah benar perguruan tinggi ini ada mahasiswanya. Apakah tidak kebanyakan itu kalau 4 ribu, sudah terlalu banyak. Kalau pun 2 ribu saja sebenarnya cukup,” kata dia.

Menurut Asep, jika tidak ditutup, perguruan tinggi atau universitas itu bisa saja digabungkan (merger) dengan perguruan tinggi lainnya. Hal ini juga merupakan salah satu terobosan yang bisa dilakukan mendikbud saat ini.

Forum Rektor Indonesia juga meminta Nadiem untuk menetapkan kebijakan yang mendorong pihak industri agar bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi. Hal itu agar riset dan inovasi yang dilakukan kolaborasi dunia kampus dan industri memiliki nilai ekonomi serta berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

“Dan itu harus dibuka agar perguruan tinggi bisa bekerja sama dengan industri, jangan terlalu banyak birokrasi,” tutur Asep.

Sementara Pengamat Pendidikan, Budi Trikorayanto mengatakan, bahwa pendidikan dipimpin seorang Nadiem Makarim adalah sangat tepat. Karena sudah saatnya untuk mengubah model pendidikan demi menyambut revolusi industri 4.0. “Revolusi Industri 4.0 memang menuntut perubahan dari pendidikan model pabrik (persekolahan) saat ini,” ujar Budi kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (27/10).

Lanjut budi, pendidikan 4.0 adalah CyberSchool yang merupakan pendidikan luar sekolah yang tidak terkurung ruangan kelas dan terikat waktu. “SMAN 6 dan SMAN 52 DKI telah mengembangkan CyberSchool untuk efisiensi dan memperluas layananannya,” tukas Budi.(din/fin)

  • Dipublish : 28 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami