Nenek Nekat Menggendong Jenazah Cucunya di Jalanan, Ini Kisahnya

Dian Ismiyati, seorang nenek yang nekad karena berjalan kaki menggendong jenazah cucunya dan mendadak viral sedang menuturkan kisahnya di kantor polisi. (sabik/JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Dian Ismiyati, seorang nenek yang nekad karena berjalan kaki menggendong jenazah cucunya, mendadak viral. Kejadian Selasa (17/9) terjadi karena pihak puskesmas tidak menawarkan jasa mobil jenazah untuk cucu yang meninggal saat proses kelahiran itu.

Siang itu, anak keduanya Aura Stefani, 17, menjalani persalinan di Puskesmas Cilincing, Jakarta Utara. Proses kelahiran terjadi pukul 14.00 WIB. Namun nahas, nyawa sang cucu saat itu tidak tertolong. Sehingga sekitar pukul 16.00 dia membawa jenazah cucunya pulang menggunakan sepeda motor. Si Nenek lalu dibonceng oleh anaknya yang lain, Hamim Saputra.

Di tengah perjalanan, motor yang ditumpanginya kehabisan bensin. Jalanan saat itu macet dengan matahari yang begitu terik. Akhirnya dia memutuskan pulang ke rumahnya di Kampung Malaka Rt 07 Rw 12, Cilincing dengan jalan kaki sambil menggendong jenazah cucunya. Jarak rumah dari titik berjalan kaki, jaraknya diperkirakan sekitar dua kilometer.

Baru berjalan sekitar 100 meter, Dian lalu dihampiri oleh polisi yang tengah berjaga. Kemudian ditawari tumpangan menggunakan mobil. Hingga akhirnya jenazah cucunya dimakamkan sekitar pukul 20.00 WIB di TPU Malaka.

Dian mengatakan, pihak puskesmas memang tidak menawarkan jasa mobil jenazah untuk cucunya. Sebab, di puskesmas tersebut memang tidak memilikinya. “Di situ kebetulan tidak ada mobil ambulance untuk jenazah. jadi mungkin tidak ada penawaran,” kata Dian.

Oleh karena itu, pihak puskesmas tidak melarang Dian membawa jenazah cucunya dengan sepeda motor. Untuk kelancaran diperjalanan, pihak puskesmas membekali Nenek dengan surat kematian resmi.

“Pihak puskesmas menjelaskan nanti kalau di jalan ada rintangan apa atau ditilang polisi, ibu tunjukin saja surat kematian dari pihak dokter Insya Allah tidak ada apa-apa,” tambahnya.

Sementara itu, Dian sendiri tidak mempermasalahkan pelayanan puskesmas. Sebab, sejauh anaknya dirawat setelah persalinan sudah dilayani dengan baik. Kondisi anaknya juga sudah mulai stabil, meskipun belum diizinkan pulang.

Di sisi lain, Dian yang masih berusia 36 tahun itu menyebut meninggalnya cucunya dalam persalinan juga bukan kelalaian pihak puskesmas. Melainkan, kondisi janin lahir sebelum waktunya. Selain itu, faktor kurangnya asupan makanan kepada sang ibu saat mengandung.

“(Bayinya) premature, baru 28 minggu terus kondisi anak saya enggak fit, karena enggak mau makan. Anak saya enggak mau makan banget,” terangnya.

Sementara itu, Kapolsubsektor KBN Marunda Aiptu Wayan Putu Sumerta mengatakan, saat itu dia bersama dua rekannya tengah bertugas mengatur lalu lintas di Jalan Arteri Marunda tepatnya di eks Pasar Bebek seperti biasa. Dia sempat curiga karena ada Hamim yang masih terlihat muda mendorong-dorong motor.

“Setelah kami hentikan d pos bersama, di sana ditanya sama anak buah kami. Kenapa kamu motor didorong? Saya kehabisan bensin pak. Kenapa dan darimana? Saudara saya meninggal,” kata Wayan menirukan percakapannya dengan Hamim.

Wayan kemudian mempertanyakan keberadaan saudaranya yang meninggal. Hamim kemudian menunjuk ibunya yang tengah berjalan sambil menggendong jenazah cucunya. secara spontan Wayan langsung memberi tumpangan menggunakan mobil. Sesampainya di rumah Dian, polisi hanya menjumpai seorang pria. Sedangkan tak nampak ada keramaian pelayat.

“Kita mikir gimana ibu kita ini penyelesaiannya, penguburannya, akhirnya kami sampaikan kepada warga, cucunya ibu Dian meninggal. Akhirnya warga datang,” imbuhnya.

Karena tak tega melihat kondisi Dian yang serba kekurangan, bahkan bensin motor pun sampai kehabisan, Wayan memberikan uang Rp 200 ribu dari total Rp 250 ribu yang berada di sakunya untuk diberikan kepada Dian. Uang itu ditujukan untuk membantu pemakaman cucunya.

“Saya serahkan kepada ibu, tetapi ibu ini mengucapkan terima kasih sampai menangis-nangis kepada kami. Saya bilang ini sudah biasa, tugas polri memang seperti ini,” tegas Wayan.

Di sisi lain, Wayan tak tahu menahu video saat dia menolong Dian menjadi viral. Dia baru diberitahu oleh rekannya yang lain, bahwa tayangan tersebut sudah ramai diperbincangkan netizen pada malam hari selepas pemakaman dilakukan.

Meski begitu, dia merasa senang mendengar kabar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono akan memberikan apresiasi atas perilakunya tersebut.

“Anggota dan kami sebagau anak dari beliau (Gatot) dan sebagai pimpinan kami, apapun yang diberikan, ya kami sebagai anak akan senang bilamana diperhatikan oleh orang tua kami,” pungkas Wayan.

Sebelumnya, beredar video viral menunjukan seorang perempuan berjalan menggendong bayi yang sudah meninggal dunia di pinggiran jalan raya, viral. Dalam tayangan itu kemudian sang ibu ditolong oleh anggota polisi dan diantar sampai rumahnya.

Dia menggendong bayinya yang meninggal dunia saat persalinan di Puskesmas Cilincing, Jakarta Utara. Mulanya Aura tidak berjalan kaki. Tapi berboncengan dengan suaminya menggunakan motor.

Namun, di tengah perjalanan motor tersebut mogok, kehabisan bensin. Dengan kondisi berkecamuk, dia akhirnya pulang ke rumahnya di Kampung Malaka Rt 07 Rw 12, Cilincing dengan berjalan kaki. (jp)

 

Sumber: jawapos.com

  • Dipublish : 19 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami