Neraca Dagang Surplus USD743 Juta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdaangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus sebesar USD743 juta. Angka tersebut ditopang dari angka ekspor USD14,09 miliar dan impor USD13,35 miliar.

“Dengan demikian, pada bulan Maret 2020 terjadi surplus sebesar USD743 juta,” kata kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam video teleconference di Jakarta, kemarin (15/4).

Ia menjelaskan, kinerja ekspor Indonesia sepanjang Maret meningkat tipis sebesar USD300 juta dari USD14,06 miliar pada Maret 2020.”Total ekspor pada Maret 2020 USD14,09 miliar, kalau dibandingkan Februari 2020 sebesar USD14,06 miliar. Jadi untuk ekspor ada peningkatan tipis 0,23 persen,” ujar dia.

Masih di bulan itu, kata Kecuk, ekspor migas Indonesia mengalami penurunan cukup dalam sebesar 16,29 persen. Sedangkan ekspor non migas meningkat 1,24 persen.

Sementara dari sisi impor sepanjang Maret 2020 tercatat USD13,35 miliar atau naik 15,60 persen dibanding Maret 2019. Posisi tersebut apabila dibandingkan Maret 2019 turun 0,75 persen.

Adapun, impor nonmigas Maret 2020 mencapai USD11,74 miliar atau naik 19,83 persen dibanding Februari 2020. Namun jika dibandingkan Maret 2019 turun 1,56 persen.

Untuk impor migas Maret 2020 mencapai USD1,61 miliar atau turun 8,07 persen dibanding Februari 2020. Sebaliknya meningkat 5,64 persen jika dibandingkan Maret 2019.

“Peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2020 adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik sebesar USD422,8 juta (35,60 persen). Sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan mekanis sebesar USD97,5 juta,” jelas dia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai surplus neraca dagang Maret 2020 karena perlambatan ekonomi di tengah pandemi corona atau Covid-19. Ia juga menyebutkan, surplus karena terjadinya penurunan impor.

Kontraksi tersebut terlihat dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia kuartal I/2020 yang tercatat sebesar 45,64 persen, turun dari 51,50 persen pada kuartal IV/2020 dan 52,65 persen pada kuartal I/2019.

“Surplus tercipta bukan karena ekspor naik, kalau dilihat secara tahunan pada bulan Maret total ekspor turun 0,2 persen, kemudian impor turun 0,75 persen. Ini surplus semu sesuai perkiraan,” katanya, kemarin (15/4).

Di samping itu, menurut Bhima, impor barang konsumsi juga melambat karena pelemahan daya beli dan gelombang PHK sehingga menyebabkan anjloknya pendapatan masyarakat.

Dari sisi ekspor, kata Bhima, harga komoditas pada Maret 2020 masih cenderung rendah, khususnya minyak mentah. Permintaan global melemah seiring prediksi WTO akan terjadinya kontraksi volume perdagangan global hingga 32 persen sepanjang tahun.

“Seharusnya sekarang ini sudah terjadi lonjakan produksi untuk memenuhi permintaan seasonal. Tapi ini enggak terjadi,” pungkasnya.(din/fin)

  • Dipublish : 16 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami