Nilai Tukar Rupiah Masih Terus Menguat

Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih terus menguat di kisaran Rp13.680 per dolar AS. Penguatan yang terus berlanjut itu karena sejalan dengan pergerakan mata uang regional dan emerging market lainnya.

Selain itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Nanang Hendarsah menyebutkan penguatan rupiah bukan hanya disebabkan oleh faktor global namun juga berbagai perbaikan di dalam negeri.

Misalkan, perbaikan pada neraca pembayaran baik neraca transaksi berjalan maupun neraca modal, jumlah cadangan devisi yang terus meningkat, serta inflasi yang tetap stabil di bawah 3 persen.

“Pergerakan mata uang seluruh Emerging Market menguat, maka gak heran secara fundamental rupiah bisa terus meguat,” ujar dia, kemarin (14/1).

Saat ini, kata da, mekanisme penguatan rupiah diserahkan pada kekuatan supply demand pasar, asalkan pergerakannya manageable. Kondisi terakhir, supply devisi banyak bersumber dari investor global dan eksportir.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menilai ada tiga hal yang mendukung penguatan rupiah. Pertama adalah fundamental ekonomi Indonesia yang lebih baik.

Kedua, adalah pasokan valas lebih tinggi dari permintaan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan, aliran modal masuk dinilai lebih dari cukup.

Selanjutnya ketiga, penguatan rupiah menunjukkan confidence (terhadap) kebijakan pemerintah dan BI dalam menjaga rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean, sebelumnya memperkirakan nilai tukar rupiah kian terdepresiasi di kisaran Rp14.400 per dolar AS .

“(Prediksi) Angka Rp14.400 menurut saya realistis,” ujar dia.

Dia menjelaskan, rupiah terdepresiasi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah sentimen negatif dari dunia global pada tahun yang sama. Kendati demikian, kurs rupiah bisa terapresiasi pula oleh faktor lain.

“Kurs rupiah bisa saja stabil karena didorong oleh Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) Bank Indonesia. Selain itu, juga dodorong oleh yen (kurs Jepang,” kata dia.(fin)

  • Dipublish : 15 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami