Novel Dicecar Soal BARBUK dan Kasus

DICECAR: Kuasa Hukum Novel Baswedan, Arif Maulana (paling kanan) memberi keterangan perihal materi pemeriksaan kasus penyiraman air keras di KPK, Jakarta, Kamis (20/6). (Rizki/FIN)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Babak baru pengungkapan kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan dimulai, Kamis (20/6).

Kuasa Hukum Novel Baswedan, Arif Maulana, menyebut kliennya dicecar sejumlah pertanyaan mengenai barang bukti kasus penyiraman air keras oleh tim gabungan Polri. Selain itu, Novel juga disebut ditanyakan soal kasus-kasus yang diduga menjadi latar belakang teror terhadap pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Pertanyaannya bisa dibilang lebih dari 20,” ujar Arif di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (20/6).

Arif merinci, barang bukti tersebut di antaranya rekaman CCTV, sidik jari pada botol air keras, serta data cell tower dump mengenai sejumlah nomor ponsel terduga pelaku yang berhasil diperoleh tim.

“Juga bagaimana empat orang yang diduga saat itu sebagai tersangka dan juga dua orang eksekutor itu diidentifikasi,” ucapnya.

Selain mengenai barang bukti, tim juga sempat menanyakan sejumlah kasus yang diduga terkait dengan teror terhadap pegawai KPK. Termasuk ihwal penyiraman air keras.

Arif menggarisbawahi, kasus korupsi e-KTP dijadikan materi selama pemeriksaan. Tak hanya itu, rencana operasi tangkap tangan (OTT) terkait reklamasi Teluk Jakarta turut didalami.

“Ada pertanyaan menarik dari tim terkait dengan kasus e-KTP dan juga penangkapan kasus rencana OTT dari tim KPK terhadap pada saat itu pengusaha yang berkaitan dengan reklamasi. Itu ditanyakan secara khusus oleh tim,” tuturnya.

Saat pendalaman itu pula, Arif mengungkap, Novel sempat menyebut nama seorang anggota kepolisian. “Dia (anggota kepolisian) berkaitan dengan kasus penggagalan OTT KPK di kasus reklamasi,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Novel Baswedan mengatakan saat pemeriksaan dirinya meminta tim gabungan untuk fokus mengungkap salah satu kasus teror yang menimpa pegawai KPK. Karena, menurutnya, jika seluruh teror pegawai yang berjumlah 10 kasus dibuktikan secara bersamaan akan menciptakan kebingungan.

“Saya juga penydik, saya juga punya pemahaman yang kuat dalam pembuktian yang mana pembuktian perkara harus jelas. Tidak 10 perkara digabung menjadi satu terus kemudian jadi tidak ketemu (pelakunya),” kata dia.

Novel pun menyarankan agar tim gabungan jangan berfokus untuk mengungkap aktor di balik penyiraman air keras. Akan tetapi, fokus mengungkap eksekutor di lapangan karena seharusnya, menurut Novel, buktinya sudah ada.

Selain itu, tim gabungan juga sempat meminta dirinya menceritakan motif penyerangan. Namun, menurutnya hal itu tidak relevan dengan pengungkapan identitas eksekutor lapangan.

“Saya balik bertanya kalau saya sampaikan soal motif apa itu bisa membuktikan pelaku lapangan? Pasti tidak. Kalau saya bicara soal motif apa itu akan menjdi kuat? Pasti sangat mudah untuk dielakan,” tuturnya.

(riz/fin/tgr)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 7 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami