Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mengeluarkan Status Gawat Darurat Virus Korona

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JARINGANMEDIA.CO.ID,- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mengakui jika penyebaran virus Korona berbahaya. Status gawat darurat atau emergency pun ditetapkan pada Kamis (30/1) menyusul keadaan darurat global terkait penyebaran virus Korona mematikan dari Tiongkok. Sebab jumlah korban meninggal dalam satu hari jumlahnya melonjak drastis.

Sebut saja, Provinsi Hubei melaporkan 42 kematian baru per 31 Januari. Ini telah meningkat menjadi 212 korban tewas sejak kemarin (30/1). Sementara ada 9.480 pasien lainnya terinfeksi.

Badan kesehatan PBB yang berbasis di Jenewa itu pada awalnya meremehkan ancaman yang ditimbulkan oleh virus Korona dari Wuhan, Tiongkok itu. WHO akhirnya merevisi penilaian risikonya setelah pembicaraan krisis.

“Kekhawatiran terbesar kami adalah potensi penyebaran virus ke negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah,” kata ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah arahan di Jenewa, seperti dilansir dari Channel News Asia, Jumat (31/1).

“Kita semua harus bertindak bersama sekarang untuk membatasi penyebaran lebih lanjut. Kita hanya bisa menghentikannya bersama,” tambahnya.

Namun Tedros mengatakan pembatasan perjalanan dan perdagangan dengan Tiongkok tidak perlu untuk membendung penyebaran virus, yang telah menyebar ke lebih dari 15 negara lain di seluruh dunia. Banyak negara telah mendesak warganya untuk tidak mengunjungi Tiongkok, sementara beberapa telah melarang masuk kota Wuhan, tempat virus itu pertama kali muncul.

AS melaporkan kasus pertama seseorang yang tertular virus tersebut dari orang lain di tanah Amerika. Seorang pria di Chicago tertular penyakit dari istrinya, yang telah melakukan perjalanan ke Wuhan.

Maskapai mulai membatalkan penerbangan yang melayani Tiongkok. Israel melarang semua penerbangan dari Tiongkok. Sementara Rusia mengatakan akan menutup perbatasan dengan Tiongkok karena wabah itu.

Beijing telah mengambil langkah ekstrem untuk menghentikan penyebaran virus, termasuk mengkarantina lebih dari 50 juta orang secara efektif di Wuhan dan sekitar provinsi Hubei. Patogen itu diyakini telah muncul di pasar yang menjual hewan liar.

Ribuan orang asing pun telah terperangkap di Wuhan sejak ditutup pekan lalu. Beijing dan Shanghai sepi ketika banyak orang mengikuti saran untuk tetap tinggal di dalam rumah atau setidaknya mengenakan masker.

Jepang dan Amerika Serikat pada hari Rabu (29/1) menjadi negara pertama yang mengatur penerbangan untuk mengevakuasi warganya dari Wuhan. Penerbangan AS kedua direncanakan dalam beberapa hari mendatang.

Sedangkan Inggris sedang merencanakan evakuasi sekitar 200 warganya Jumat (31/1) pagi, setelah menerima izin dari Beijing. Sebuah pesawat Prancis juga akan meninggalkan Wuhan pada hari Jumat (31/1), menurut seorang wartawan AFP di tempat kejadian. Australia dan Selandia Baru juga akan melakukan hal serupa.

Tokyo pada hari Kamis (30/1) melaporkan bahwa tiga orang yang berada dalam penerbangan evakuasi pertama telah dites positif terkena virus setelah mendarat kembali di Jepang. Dua dari tiga penumpang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.

Virus ini mirip dengan patogen Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS). Wabah itu juga dimulai di Tiongkok. Maskapai besar yang menangguhkan atau mengurangi layanan ke Tiongkok termasuk British Airways, maskapai berbendera Jerman Lufthansa, American Airlines, KLM dan United.

Dari sisi perekonomian, sejumlah industri menutup gerainya. Toyota, IKEA, Starbucks, Tesla, McDonald’s dan raksasa teknologi Foxconn termasuk di antara perusahaan raksasa yang sementara membekukan produksi atau menutup sejumlah besar outlet di Tiongkok. Volkswagen mengumumkan tidak akan memulai produksi lagi sebelum 9 Februari. (jp/jm)

  • Dipublish : 31 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami