Oversupplay Bikin Harga Minyak Anjlok Lebih dari Tiga Persen

ILUSTRASI penambangan minyak lepas pantai. (dok. JawaPos.com)
ILUSTRASI penambangan minyak lepas pantai. (dok. JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Harga minyak merosot lebih dari 3 persen, Senin, setelah data ekonomi yang lemah dari China dan Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia, dan produksi yang lebih tinggi dari produsen OPEC memicu kekhawatiran menyusutnya permintaan dan kelebihan pasokan.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD2,52 atau 3,3 perse , menjadi USD72,89 per barel, demikian dikutip dari laporan Reuters, Senin (2/8) atau Selasa (3/8) pagi WIB.

Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melorot USD2,69, atau 3,6 persen, menjadi USD71,26 per barel.

“Energi berjangka masih mengungkapkan kekhawatiran atas konsumsi produksi yang melambat karena kasus virus corona kembali meningkat di beberapa wilayah Amerika serta beberapa negara lainnya,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates LLC di Galena, Illinois.

Pertumbuhan aktivitas pabrik China merosot tajam pada Juli karena permintaan berkontraksi untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun, sebuah survei menunjukkan pada Senin.

Hasil yang lebih lemah dalam survei swasta itu, sebagian besar mencakup produsen kecil dan berorientasi ekspor, secara luas selaras dengan survei resmi yang dirilis pada Sabtu.

“China memimpin pemulihan ekonomi di Asia dan jika kemundurannya semakin dalam, kekhawatiran akan meningkat bahwa prospek global bakal mengalami penurunan signifikan,” kata Edward Moya, analis OANDA.

Aktivitas manufaktur Amerika juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Laju pertumbuhan melambat untuk bulan kedua berturut-turut karena pengeluaran berputar kembali ke sektor jasa dari barang dan kekurangan bahan baku tetap bertahan, menurut data dari Institute for Supply Management (ISM).

Indeks aktivitas pabrik nasional ISM turun ke posisi 59,5 pada bulan lalu, angka terendah sejak Januari, dari 60,6 di Juni.

Juga membebani harga, survei Reuters menemukan bahwa produksi minyak dari Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) naik pada Juli ke level tertinggi sejak April 2020.

Amerika Serikat tidak akan melakukan lockdown lagi untuk mengekang Covid-19, tetapi “segalanya akan menjadi lebih buruk” karena varian Delta memicu lonjakan kasus, sebagian besar di antara yang tidak divaksinasi, tutur Kepala Penasihat Medis Presiden Joe Biden, Anthony Fauci, Minggu.

Amerika Serikat dan Inggris, Minggu, mengatakan mereka percaya Iran melakukan serangan terhadap kapal tanker Israel, yang menewaskan seorang warga Inggris dan Rumania, dan berjanji untuk bekerja sama dengan semua mitranya untuk menanggapi. (fin/jm)

  • Dipublish : 3 Agustus 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami