Pabrikan Diimbau Cari Bahan Baku di Luar Cina

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Meski ekspor dan impor masih berjalan seperti biasa, namun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan harus diwaspadai. Sebab bila virus corona terus berlangsung, tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh pada dua kegiatan tersebut.

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kemenperin Enny Ratnaningtyas mengimbau agar pabrikan mulai mencari alternatif pasokan bahan baku dari negara lain. Sebab akibat virus corona ekspor-impor semakin diperketat.

“Bawang putih sebagai bahan baku bumbu pada mi instan, tepung bumbu, dan makanan lainnya hampir semuanya berasal dari Cina. Industri olahan untuk alternatif impor bawang putih bisa impor dalam bentuk garlic powder,” katanya, kemarin, (17/2).

Dia menyarankan, industri olahan pengguna bawang putih dapat mengimpor garlic powder dari negara penghasil lain seperti Amerika Serikat, Belanda, dan Malaysia.

Hasil penelian, kata Enny. virus corona tidak mampu bertahan pada bahan pangan yang sudah diproses. Pasalnya, pembawa virus corona merupakan makhluk hidup seperti hewan dan manusia.

Salah satu pabrikan yang berpengaruh besar terhadap wabah virus corona adalah industri farmasi di Indonesia. Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, Tirto Kusnadi mengatakan, hampir 50 persen bahan baku produksi farmasi di Indonesia diimpor dari Cina, selebihnya dari India dan beberapa negara lain.

Lanjut dia, dampak virus corona membuat pendistribusian bahan baku ke Indonesia menjadi terhambat. Bahkan, pada bulan Maret-April, stok obat sudah semakin menipis.

“Stok obat kita mungkin akan tetap terjaga sampai dengan akhir Maret menuju April. Cuma kalau keadaan tidak bisa normal lagi, mungkin Juni dan Juli mulai terpengaruh ya,” katanya.

Kata dia, memang ada negara lain sebagai alternatif seperti India. Namun, sebagain besar menyediakan bahan baku setengah jadi yang juga diimpor dari Cina. Harga dari Negeri Bollywood itu juga jauh lebih mahal dari Cina.

Mahalnya harga bahan baku dari India, menurut dia, sudah pasti akan mempengaruhi peredaran obat ke masyarakat yang 60 persen dibeli murah oleh BPJS Kesehatan. Belum lagi, pembayaran BPJS melalui rumah sakit juga tidak bisa dipastikan berapa lamanya. Keadaan ini membuat rugi pabrikan obat.

Dia memperkirakan, harga obat akan naik cukup besar sekitar 20-30 persen. Sebab, saat ini saja sudah ada bahan baku yang naik sampai 30 persen yakni parasetamol yang merupakan obat paling dasar.

“Mungkin dalam waktu 1-2 Minggu ke depan, barangkali akan naik lebih banyak lagi. Parasetamol itu kan bahan bakunya juga parasetamol, harga beli internasionalnya ini sudah naik,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, pabrikan lokal mengimpor hampir 30 persen bahan bakunya dari Cina. Kondisi ini dikhawatirkan akan Cina menurunkan atau menghentikan utilitas pabrikan penghasil bahan baku.

“Saya sangat tidak happy kalau industrinya mati karena tidak ada bahan baku,” ujar dia.(din/fin)

  • Dipublish : 19 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami