Pakar Jepang Prediksi Korona Musnah dalam 2 tahun, Olimpiade Tak Aman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id, – Olimpiade Tokyo 2020 resmi ditunda setahun penuh. Dari 24 Juli 2020 menjadi 23 Juli hingga 8 Agustus 2021. Namun, itu tidak menjamin bahwa multievent antarbangsa paling prestisius di dunia tersebut akan terbebas dari masalah.

CEO Olimpiade Tokyo Toshiro Muto mengirimkan sinyal, akan ada beberapa venue yang tak bisa digunakan saat Olimpiade berlangsung nanti. Hal itu dia ungkapkan dalam konferensi pers berbarengan dengan saat jadwal baru Olimpiade Senin lalu (30/3).

Namun, dia belum memerinci venue cabang olahraga mana saja yang berpotensi mengalami perubahan tersebut.

Tuan rumah Jepang menyiapkan 43 gedung olahraga untuk pertandingan seluruh cabor. Mereka terbagi dalam tiga zona. Beberapa venue baru saja direnovasi besar-besaran. Termasuk New National Stadium yang rencananya digunakan untuk opening dan closing ceremony. Itu masih ditambah tiga venue non pertandingan. Yakni, Olympic Village, hotel IOC, serta media center.

Tahun depan agenda olahraga juga padat. Ada Euro 2020 yang juga ditunda setahun. Pada saat yang nyaris bersamaan dengan Olimpiade, rencananya digelar Kejuaraan Dunia Akuatik. Juga Kejuaraan Dunia Atletik. Lalu dilanjutkan Summer Universiade di Tiongkok. Memang tidak ada yang digelar di Jepang. Namun, ada kemungkinan beberapa venue disewa pihak lain.

Di luar soal venue, Muto menyebut penundaan Olimpiade sebagai opsi yang paling aman yang bisa diambil saat ini. Meski, sampai sekarang pun belum ada pakar kesehatan yang berani memastikan bahwa pandemi Covid-19 sudah berakhir saat Olimpiade bergulir pada musim panas tahun depan.

Kazuhiro Tateda, ketua Asosiasi Penyakit Menular Jepang (Japanese Association for Infectious Disease), belum berani memastikan kapan wabah Covid-19 yang mengglobal itu berakhir. Dia hanya mengungkapkan prediksi bahwa kecepatan persebaran virus tersebut sudah melambat.

’’Virus korona baru saat ini sudah menyebar dengan cepat,’’ ucap Tateda dilansir Reuters.

’’Beberapa bulan ke depan, virus mungkin sudah akan menyebar ke belahan utara dan selatan (Jepang). Jika orang-orang yang pulih menjadi kebal, kita bisa bilang bahwa serangan virus sudah mereda. Tapi, kita tetap tidak bisa memastikan situasi untuk setahun mendatang,’’ papar peneliti asal Toho University, Tokyo, tersebut.

Tateda yang juga anggota gugus tugas khusus pemerintah Jepang untuk mengatasi Covid-19 mengatakan, penundaan Olimpiade hingga 2021 merupakan pilihan paling rasional.

Pihaknya juga akan terus memantau kondisi terakhir Jepang secara berkala. Seramnya, dia bisa saja merekomendasikan perubahan jadwal Olimpiade lagi jika memang dibutuhkan.

Koji Wada, profesor dari International University of Health and Welfare, bahkan menyebutkan, menggelar Olimpiade di musim panas 2021 tetaplah sulit. Apalagi, Covid-19 sudah menyebar ke seluruh belahan dunia.

’’Menurut saya, mereka terlalu optimistis. Sulit untuk bisa berasumsi bahwa dalam 15 bulan mendatang orang-orang sudah bisa bepergian secara bebas,’’ jelasnya.

Dia memprediksi, baru dua tahun lagi virus korona akan benar-benar bisa diatasi. Wada berasumsi, Olimpiade mungkin akan tetap diadakan tahun depan. Namun dengan kondisi dunia yang masih krisis akibat virus tersebut.

Wada melanjutkan, menggelar Olimpiade pada masa krisis akan menghilangkan prinsip keadilan olahraga. Para atlet yang berasal dari wilayah yang masih terpapar Covid-19 akan mendapat perlakuan khusus. Misalnya, karantina selama 14 hari sebelum bertanding. (jp)

  • Dipublish : 1 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami