Pamer Tersangka, ICW: Kebiasan Lama Firli di Polisi, Bukan Budaya KPK

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JaringanMedia.co.id – Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai, konferensi pers dengan cara mempertontonkan tersangka kepada masyarakat luas bukan merupakan kebiasaan yang ada di KPK. Hal itu dinilai merupakan budaya baru, yang jauh dari budaya KPK yang selalu menjaga asas praduga tak bersalah, sebelum kasus berkekuatan hukum tetap (inkracht).

“Tindakan mempertontonkan tersangka lazim masyarakat lihat pada institusi penegak hukum lain. Lagi-lagi hal itu dapat dimaklumi, karena toh juga sampai saat ini Firli tidak pernah menyatakan mundur dari institusinya terdahulu,” kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Selasa (28/4).

Kurnia memaklumi, langkah Firli Bahuri Cs yang mempertontonkan tersangka pelaku korupsi. Sebab, pimpinan KPK saat ini memang selalu ingin terlihat beda dari rezim-rezim sebelumnya.

Kurnia lantas mencontohkan rezim pimpinan KPK sebelumnya yang sering melakukan penindakan dan kerap berhasil membongkar skandal korupsi dengan nilai kerugian keuangan negara yang besar. Sedangkan, rezim kepemimpinan Firli sangat minim melakukan penindakan, tapi malah kerap menimbulkan kontroversial dan terkesan takut menghadapi para koruptor, seperti Harun Masiku dan Nurhadi.

“Buktinya sampai hari ini dua koruptor itu tidak berhasil diringkus oleh KPK. Selain itu pada era Firli praktis tidak pernah menyentuh kasus-kasus besar, seperti BLBI, Bailout Bank Century, dan e-KTP,” ujar Kurnia.

Kurnia menyebut, budaya baru yang mempertontonkan tersangka tidak biasa dilakukan oleh KPK. Firli yang merupakan berlatar belakang polisi masih membawa gaya Korps Bhayangkara ke KPK, terlebih hingga kini jenderal bintang tiga itu belum menyatakan mundur dari institusi lamanya.

“Jadi, wajar saja kebiasaan-kebiasaan lama yang bersangkutan masih dibawa-bawa ke KPK. Ini sekaligus menggambarkan bahwa Firli Bahuri belum memahami sepenuhnya kebiasaan-kebiasaan yang ada di KPK itu sendiri,” beber Kurnia.

Terlebih, kasus dugaan suap proyek di Kabupaten Muara Enim merupakan kasus lama yang dimulai pada operasi tangkap tangan (OTT) rezim kepemimpinan Agus Rahardjo Cs. Hal ini bukan merupakan prestasi yang membanggakan.

“Sebab, kasus ini merupakan pengembangan saja dari penyelidikan yang telah dilakukan oleh Pimpinan KPK sebelumnya,” urai Kurnia.

Kurnia memandang, publik akan bangga ke KPK jika Firli Bahuri dapat menangkap Harun Masiku, Nurhadi, Sjamsul Nursalim, Itjih Nursalim serta melanjutkan kasus bailout Bank Century, dan menuntaskan kasus pengadaan e-KTP.

“Namun, melihat pola kerja Pimpinan KPK saat ini rasanya keinginan publik itu tidak akan pernah terealisasi,” pungkasnya. (jp)

  • Dipublish : 28 April 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami