Parlemen Desak Pemerintah Bebaskan WNI di Filipina

Ilustrasi/ist
Ilustrasi/ist
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Komisi I DPR RI mendesak pemerintah segera membebaskan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, meminta pemerintah bertindak konkret supaya negara tidak sampai dimanfaatkan kelompok tertentu untuk meraih uang tebusan.

“Saya berharap pemerintah bisa mengambil langkah-langkah yang tepat tanpa harus menjadi semacam Anjungan Tunai Mandiri (ATM), jadi sapi perahan, diperas terus dengan cara menangkap (warganya) seperti itu,” kata Abdul, Kamis (5/12).

Seperti diketahui, tiga WNI yang berprofesi sebagai nelayan berasal dari Baubau dan Wakatobi Sulawesi Tenggara yaitu Maharudin Lunani (48), putranya, Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27) disandera kelompok Abu Sayyaf setelah diculik dari kapal yang berlayar di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia.

Perairan itu memang dikenal rawan pembajakan dan penyanderaan oleh kelompok bersenjata dari selatan Filipina seperti Abu Sayyaf. Dalam video berdurasi 43 detik tersebut, ketiga WNI yang disandera tersebut meminta pemerintah membantu pembebasan mereka.

“Kami bekerja di Malaysia. Kami ditangkap Kelompok Abu Sayyaf pada 24 September 2019. Kami harap bos kami bantu kami untuk bebaskan kami,” kata Samiun menggunakan bahasa Indonesia dalam video tersebut.

Anggota Komisi I DPR RI, Muhammad Farhan, mengusulkan agar TNI bisa disiagakan di wilayah lokasi persembunyian kelompok Abu Sayyaf. Kesiagaan pasukan TNI, menurut Farhan, menjadi faktor penting sebagai bukti keseriusan pemerintah Indonesia.

Meski, Farhan mengakui aksi militer tidak bisa serta-merta dan sepihak dilakukan oleh TNI, karena itu menyangkut batas teritori dan kedaulatan negara lain. Menurut dia, TNI tetap perlu bekerja sama dengan militer Malaysia dan Filipina.

“Patroli militer bersama, rutin dan intensif di perairan Indonesia, Malaysia, dan Filipina harus semakin ditingkatkan. Kedaulatan dan stabilitas keamanan kawasan harus tercipta”, kata Farhan.

Ke depan, kata Farhan, agar insiden tidak terus berulang, Farhan juga menyarankan kerja sama keamanan lebih serius di antara negara anggota ASEAN, khususnya untuk wilayah perairan yang rawan dari tindak kejahatan.

“Itu penting untuk pertahanan sehingga tercipta kawasan regional yang aman dan stabil,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, telah meminta perhatian Filipina terkait dengan pembebasan sandera. Retno menjelaskan, permintaan yang sama juga disampaikan Presiden Joko Widodo kepada Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

“Presiden Jokowi menyampaikan kepada Presiden Duterte, bahwa masih ada tiga orang Indonesia yang berada di selatan Filipina. Kami mohon perhatian, kami mohon intensifkan upaya otoritas Filipina agar pembebasan tiga warga negara tersebut dilakukan sesegera mungkin,” kata Retno.

Retno menyampaikan, bahwa Duterte menyambut baik permintaan Indonesia. Bahkan, Duterte berjanji akan berupaya melakukan pembebasan itu.

Tiga orang disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Sabah, Malaysia. Ketiganya kemudian dibawa ke Sulu, Filipina selatan.

Penangkapan ketiganya dilakukan pada September lalu. Beberapa waktu lalu, dalam sebuah video, mereka meminta agar pihak perusahaan tempat bekerja dan Presiden Joko Widodo membebaskan mereka dengan memberikan uang tebusan sebesar Rp8,1 miliar.

Selama lima tahun terakhir, total ada 43 kasus penyanderaan WNI di luar negeri, dengan 36 diantaranya terjadi di Filipina selatan. Pemerintah Indonesia telah melakukan kerja sama trilateral dengan Malaysia dan Filipina.

Hasil dari trilateral itu adalah joint patrol di wilayah perbatasan ketiga negara yang rawan penculikan. Namun, beberapa kasus penculikan terakhir yang dialami WNI, terjadi di wilayah Sabah, Malaysia.

(der/fin)

  • Dipublish : 6 Desember 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami