Pasar Tradisional Menyusul Jual Rp 14 Ribu Per Liter

Ilustrasi. Warga antre membeli minyak goreng (RADAR BOGOR)
Ilustrasi. Warga antre membeli minyak goreng (RADAR BOGOR)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jaringanmedia.co.id – Problem minyak goreng bukan hanya stoknya yang kosong di banyak daerah. Penyesuaian harga dengan banderol Rp 14 ribu per liter juga belum merata. Di Sragen, misalnya, pasar tradisional masih bisa menjual dengan harga lama.

Dilansir dari Radar Solo, ketersediaan minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter saat ini masih berada di ritel besar. Selain itu, ritel yang sudah kerja sama dengan distributor menetapkan harga tersebut.

”Kalau di minimarket-minimarket sudah kami pantau sejak Rabu dan Kamis lalu, sudah mengikuti ketentuan Rp 14 ribu,” kata Kasi Pengawasan dan Distribusi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sragen Kunto Widyastuti kemarin (23/1).

Dia kembali mengawasi penjualan di ritel kemarin. Tidak ada barang yang dipajang. Namun, berdasar keterangan pegawai, peletakan dijadwalkan agar tidak langsung habis. ”Jadi, minyak goreng disetor dua hari sekali. Agar tidak langsung habis, dibagi setiap empat jam diperbarui di displai. Ketentuan seperti itu dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) karena baru dipasang dua jam sudah habis,” terang dia.

Harga Rp 14 ribu per liter itu, kata dia, baru dikhususkan untuk ritel. Sementara itu, pedagang di pasar tradisional masih menggunakan harga lama. Per liter sekitar Rp 19 ribu. Penyesuaian dilaksanakan selama seminggu. ”Di luar ritel baru dibanderol harga Rp 14 ribu pekan depan,” bebernya.

Kepala Disperindag Kabupaten Sragen Cosmas Edwi Yunanto menekankan bahwa harga Rp 14 ribu per liter tersebut berlaku selama enam bulan ke depan. Situasi itu dijamin dan tidak ada kelangkaan stok barang.

Hal serupa terjadi di Bondowoso. Radar Ijen melaporkan, kebijakan minyak goreng kemasan seharga Rp 14 ribu per liter sejak 19 Januari 2022 tersebut baru terjadi di toko modern berjejaring saja.

Sementara itu, di beberapa pasar tradisional, harganya masih berada di atas harga yang ditentukan. Misalnya, di Pasar Induk Bondowoso, sejumlah pedagang masih menjual dengan harga Rp 19 ribu per liter.

Dari pantauan di lapangan, beberapa toko modern berjejaring tampak ramai diserbu masyarakat sejak kebijakan harga diberlakukan. Bahkan, dalam sekali displai, tidak dibutuhkan waktu lama minyak goreng langsung ludes. Padahal, sudah ada pembatasan satu orang maksimal boleh membeli 2 liter.

Untuk menyeragamkan harga minyak di toko modern berjejaring atau di pasar, Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso bersama UPT Perlindungan Konsumen Jember berencana melakukan operasi pasar hari ini (24/1).

Sementara itu, Radar Bekasi melaporkan, kebijakan satu harga minyak goreng berlaku bagi rumah tangga, usaha mikro, dan usaha kecil sampai enam bulan ke depan. Saat ini kebijakan baru berlaku di toko ritel. Pemberlakuan di pasar tradisional menyusul pada 25 Januari dengan target pasokan minyak goreng dari pemerintah 250 juta liter per bulan.

Sosialisasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi mulai dilaksanakan di pasar tradisional. Menurut Kepala Disperindag Kota Bekasi Teddi Hafni, pihaknya sudah membuat surat tugas kepada aparatur untuk melakukan pengawasan di semua wilayah di Kota Bekasi. ”Nanti dalam jangka waktu seminggu dimulai (di pasar tradisional). Maksimal satu minggu. Kalau bisa sebelum satu minggu ya lebih bagus. Jadi, semuanya akan kita pantau, baik pasar tradisional maupun modern,” paparnya.

Sementara itu, menyikapi stok minyak di ritel modern yang kosong, Koordinator Wilayah Timur 1 Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) April Wahyu Widarti mengatakan, situasi yang terjadi sebenarnya bukan kelangkaan dari sisi peritel. Namun, ada kendala dari pemasok industri ritel. ”Kami sudah melakukan pemesanan. Namun, produsen dan distributor besar belum mengirimkan pesanan tersebut,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin.

Dia menyatakan, distributor dan produsen belum bersedia mengirimkan pesanan tersebut dengan beberapa alasan. Ada yang mengatakan bahwa mereka harus berkoordinasi dengan pusat produsen karena belum tahu soal kesepakatan pemerintah tentang harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng. Beberapa bahkan mengatakan bukan termasuk pihak yang menandatangani kesepakatan tersebut.

Dia menyayangkan kondisi tersebut yang akhirnya mengakibatkan beberapa persediaan di jaringan mereka kosong.

Sementara itu, Corporate Communication Alfamart Ame Pramesti mengatakan, panic buying menjadi salah satu faktor yang membuat ketersediaan makin buruk. (jpc/jm)

  • Dipublish : 24 Januari 2022
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami