Pejuang Pendidikan Terhenti di Jepang

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

MAKASSAR – Ia berpendirian tinggi. Sekali berjanji, pantang tak menepati. Begitulah Ichsan Yasin Limpo (IYL) dikenal.

Hanya saja, kanker paru-paru yang dideritanya, membuat keluarga, kerabat, dan masyarakat Sulsel bersedih. Banyak yang menangis. Penyakit itu yang menghentikan langkahnya. Kepergiannya dianggap terlalu cepat di usianya yang ke 58 tahun.

Selasa, 30 Juli, Syahrul Yasin Limpo, menerima pesan dari Jepang. Air matanya menetes seketika. Kabar kepergian adiknya, sungguh mengiris hati dan perasaan.

IYL meninggal dunia karena kanker paru-paru stadium empat. Sejak Februari, ia menjalani perawatan medis di Mount Elizabeth Hospital, Singapura.

Hanya saja, kanker yang diidap IYL sangat langka di dunia. Obatnya sangat terbatas. Usaha berobat tidak terhenti, IYL akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Tokyo, Rabu, 17 Juli, lalu. Namun, takdir berkata lain.

“Dia selalu berpesan, bahwa hidup itu memang hanya singkat. Pengabdianlah yang utama,” kata SYL di teras kediaman ibunya, Nurhayati, di Jalan Haji Bau, Makassar, siang kemarin.

Kediaman Nurhayati sudah sangat padat. Seluruh kerabat datang memberikan ucapan bela sungkawa. Karangan bunga terpajang begitu banyak di sepanjang jalan.

Di depan pintu masuk rumah, foto IYL terpajang. SYL sesekali meliriknya dengan tatap kosong. Tak membiarkan air mata jatuh di tengah keramaian. Ia berusaha tegar.

Mantan gubernur Sulsel dua periode itu berujar, adiknya berhasil menjadi pemimpin dengan mempertahankan idealismenya sendiri. Bekal yang diterima dari ayah, HM Yasin Limpo, membuatnya menjadi sosok yang mandiri dengan pendiriannya.

“Ayah kami lima kali jadi bupati. Ayah sangat dekat dengan rakyat. Hal itulah yang diperkenalkan pada IYL,” ungkapnya, lalu melirik lagi foto adiknya.

Siswa SMA berbondong-bondong datang. Nyaris seluruh sekolah SMA. Mereka mendoakan kepergian ketua PMI Sulsel itu.

Komitmen Janji

IYL memiliki pembelaan dalam jalan-jalan kebenaran kultural sebagai orang Bugis Makassar. Karenanya, janjinya selalu ditepati.

SYL ingat betul, bagaimana IYL memilih untuk maju sebagai calon bupati Gowa pada 2005. Ia menyampaikan, akan menggratiskan pendidikan.

APBD Gowa saat itu hanya sekitar Rp400 miliar. Janjinya itu diragukan banyak orang. Bahkan, banyak menganggap hanya janji politik saja.

“Saat terpilih, program itu berhasil dilaksanakan. Ia menjadi pelopor sekolah gratis di Sulsel, bahkan di Indonesia,” kenangnya.

Saking perhatiannya IYL pada dunia pendidikan, penggunaan seragam tidak diwajibkan. Baginya, bagaimana generasi pelanjut bisa dibekali pengetahuan. Dengan cara itu pembangunan bisa berhasil.

“Terbukti, apa yang dilakukan berhasil menjadikan Kabupaten Gowa meningkat pesat. Kini program itu berlanjut. Ia memang sangat perhtian dengan pendidikan, kesehatan, dan agama,” imbuhnya.

IYL juga seorang petarung. Di mana saja. Kalah menang bukan urusan. Yang tidak boleh, jika punya peluang dan berkapasitas dan tidak bertarung. “Itulah yang dia jalani selama ini,” ucap SYL.

Suka Taman

Adik IYL, Haris Yasin Limpo juga berada di kediaman ibunya, kemarin. Ia mengenang saat masih sempat bercerita dengan kakaknya di Jepang. “Ia selalu minta diajak ke taman,” katanya.

Baginya, IYL itu sosok yang paling menjaga janjinya. Komitmen dengan sesuatu. Memegang prinsip, sehingga tidak mudah goyah.

“Apalagi yang berkaitan dengan masyarakat. Apa pun hambatannya dia pasti lalui kalau sudah komitmen, dia itu selalu ukur kemampuannya. Karena komitmennya kuat,” ungkapnya.

Selain itu, IYL tegas memegang prinsip. “Apapun yang keluar dari mulutnya, maka itulah yang terjadi. Makanya dia sangat tegas dalam memimpin,” bebernya.

IYL menginginkan pendidikan meringankan. Bukan hanya persoalan rutinitas atau persoalan tidak penting dalam keilmuan. Intinya, bagaimana anak-anak diajak berkontribusi dalam pembangunan.

“Dia lebih banyak berpikir bagaimana bisa membantu. Bagaimana berpartisipasi dalam membangun. Makanya banyak dia lakukan membantu orang,” imbuhnya.

Sosok Tegas

Tegas, tidak mengenal capek dan lelah dalam membangun daerahnya.

Itulah ungkapan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, menggambarkan sosok Ichsan Yasin Limpo (IYL).

Dia dan masyarakat Sulsel kehilangan sosok yang luar biasa. Nurdin memang menjadi salah seorang yang ikut berupaya untuk penyembuhan IYL dari penyakit kanker paru-paru yang dideritanya.

Atas rekomendasinya, mantan bupati Gowa dua periode itu dirujuk ke Juntendo University Hospital setelah menjalani perawatan yang cukup lama di RS Mount Elizabeth, Singapura.

Awal Juli lalu, suami dari Liestiaty Fachrudin itu memang sempat menjenguk Ichsan di Singapura. Saat masuk ruang perawatan, Ichsan terbaring lemah, lantaran penyakit kanker paru-paru stadium 4 yang dideritanya.

Akan tetapi, suasana pertemuan mantan rival di Pilgub Sulsel ini berlangsung cair. Ichsan justru lebih banyak menghibur. “Beliau sangat melucu. Saat saya duduk, beliau langsung bilang, ‘Harum sekali Pak Gubernur’,” tutur Nurdin, menggambarkan pertemuannya kala itu.

Ichsan lalu menyampaikan permintaannya. Dia yakin kedatangan Nurdin bisa membantunya. Nurdin lalu meminta agar Ichsan mengutarakan keinginannya. “Saya (Ichsan) pengen ke kamar mandi sendiri dan buang air sendiri,” ujar Nurdin menirukan perkataan Ichsan.

Dari permintaan itu, terlihat kemauan kuatnya untuk sembuh. Nurdin memaknai Ichsan ingin kembali beraktivitas dan kembali sehat seperti sedia kala.

Setelah itu, kata dia, Ichsan lalu menyampaikan bahwa dirinya sudah tenang. Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya masih merasa sedih. “Saya mungkin tidak bisa lagi melihat dua anak saya menikah,” ungkap Nurdin yang kembali menirukan kata-tata Ichsan.

Dari permintaan itu, dia langsung berkomunikasi dengan tim dokter di Jepang. Tim dokter ahli di rumah sakit terbaik yang menangani kanker. Terutama kanker paru-paru yang diidap oleh Ichsan kala itu.

Seluruh keluarga dan almarhum, kata dia, punya keinginan yang begitu kuat untuk sembuh. Bahkan Ichsan dalam kondisi lemah terbang dari Singapura ke Jepang, untuk mendapat perawatan intensif.

Hingga Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan yang izin bertugas untuk menemani sang ayah. Sebelumnya Nurdin mengatakan ada karakteristik kanker yang berbeda dari kanker paru-paru yang dideritanya.

Kankernya hanya menjalar di paru-paru, tak menjalar ke organ lain. Tim dokter di Jepang pun, kata dia, sudah melakukan penanganan terbaik.

Beberapa hari sebelumnya Nurdin juga sempat ke Jepang untuk melihat kondisi Ichsan. “Kita hanya bisa berusaha, semua tetap ditentukan oleh Allah Swt,” tambahnya.

Salat Jemaah

Adik IYL, Irman Yasin Limpo, mengatakan, kakaknya adalah sosok yang kuat dan pantang menyerah. Saat bersama, IYL pun kerap mengajak saudaranya salat berjemaah. Dia selalu mengingatkan, untuk terus berdoa kepada Allah SWT.

“Dibanding sakitnya, Beliau punya tekad yang kuat. Kekuatan psikologisnya, yang membuatnya tetap bertahan. Punya komitmen dan solidaritas yang kuat. Kalau sudah berkomitmen pasti akan dipertahankan,” tutur Kepala Dinas Pendidikan Sulsel ini.

Memang, kata dia, penyakit yang diidap oleh kakaknya menjalar cepat. Dua pekan setelah pernikahan sang anak beberapa bulan lalu, Ichsan merasakan demam. Hingga akhirnya dia ke Jakarta, untuk pemeriksaan kesehatan.

Saat pemeriksaan itulah, teridentifikasi ada kanker paru-paru. “Setelah itu dirujuk ke Singapura. Perkembangan kankernya memang cepat. Pak Ichsan ini orang yang tergolong rutin melakukan pemeriksaan kesehatan,” tambahnya.

Tak Tenang

Irman begitu gelisah. Perasaannya tak tenang. Acapkali memantau grup percakapan pada layar ponselnya. Dia juga mengabari Adnan Purichta Ichsan yang tengah menemani ayahnya Ichsan di Jepang.

“Saya kabari keluarga untuk berkumpul. Memang malamnya, perasaan ini sudah tidak tenang. Mungkin ini sudah jadi isyarat Beliau akan pergi,” ujar Irman kepada FAJAR di Ampera, Jakarta Selatan, kemarin.

Perasaan gelisah membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Firasat akan kehilangan orang yang dikaguminya itu pun benar-benar terjadi. “Kakak benar-benar telah meninggalkan kita selamanya,” tuturnya.

Irman sesungguhnya telah menyusun rencana untuk membawa pulang Ichsan ke Indonesia. Harapannya agar bisa dirawat inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.

“Ini juga untuk memudahkan keluarga menjenguk Beliau,” katanya.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Irman pun pasrah akan ketetapan Yang Maha Kuasa. Dia mesti merelakan kepergian sang kakak yang dikaguminya.

“Tidak ada yang bisa sama seperti dia (Ichsan). Orangnya sangat berpendirian. Jika sudah ada keputusan yang sudah ditetapkan, maka itu tidak bisa berubah. Pendiriannya kuat,” kenang None– sapaan Irman.

IYL akan dimakamkan di Pemakaman Islam Panaikang, Kamis, 1 Agustus sekitar pukul 11.00 Wita. Jenazah akan diterbangkan dari Jepang, Rabu, 31 Juli, sekitar pukul 09.00 Wita. Irman Yasin Limpo, bersama keluarga lainnya menunggu di Jakarta.

(*)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 31 Juli 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami