Pembatasan Konsumsi Solar Bersubsidi, Pengusaha Truk Mengeluh

Ilustrasi dispenser premium dan solar di salah satu SPBU Jakarta. (dok. JawaPos.com)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA,- Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengeluhkan pembatasan penggunaan solar subsidi oleh pemerintah. Sebab, para pengusaha truk harus membeli bahan bakar minyak (BBM) dengan harga yang lebih mahal. Ongkos logistik pun semakin berat.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman menyatakan, sejak pembatasan berlaku, para pengusaha terpaksa menggunakan dexlite sebagai pengganti solar. Harga BBM itu lebih dari Rp 10 ribu. Padahal, selama ini mereka menggunakan solar yang harganya Rp 5.150 per liter.

“Ini bisa menghambat pendistribusian logistik kepada masyarakat,” ujarnya Selasa (24/9).

Pemerintah melalui BPH Migas membatasi penggunaan solar pada beberapa jenis kendaraan. Di antaranya, kendaraan pengangkut hasil kebun, hutan, dan tambang. Tepatnya, kendaraan yang jumlah rodanya lebih dari 6. Menurut Kyatmaja, aturan tersebut juga berlaku pada truk tangki BBM, tangki CPO, dump truck, trailer, truk gandeng, dan mobil pengaduk semen.

“Jika begitu, lebih baik cabut saja subsidi solar agar kami bisa beli dengan harga Rp 7.150 per liter. Lebih murah daripada harus membeli dexlite,” terang Kyatmaja.

Kabarnya, BPH Migas bakal merevisi aturan tersebut. Rencananya, angkutan barang dan dump truck diizinkan menggunakan solar subsidi. Kecuali, yang beroperasi di sektor pertambangan dan perkebunan.

“Selain itu (perkebunan dan pertambangan) boleh,” ungkap Henry Ahmad, anggota komite BPH Migas. (jp)

  • Dipublish : 25 September 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami