Pembobol Rekening Nasabah Ditangkap

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

SIDRAP – Kasus raibnya dana nasabah miliaran rupiah di Bank Mandiri Cabang Sidrap, terus berlanjut. Polisi sudah mengamankan staf AXA Mandiri, Rosani, yang diduga sudah membobol rekening nasabah Bank Mandiri, Gusnani.

Kapolres Sidrap, AKBP Budi Wahyono meminta nasabah Bank Mandiri yang merasa dirugikan bisa segera melapor. Jangan berdemo lagi. Banyak nasabah bank yang bakal tergangu. “Tempuh jalur hukum. Segera laporkan kerugian. Kita usut tuntas,” janjinya.

Diakuinya, karyawan AXA Mandiri, Rosani, sudah diamankan polisi. Ia diamankan di Kabupaten Luwu dan akan diinterogasi terkait dugaan pembobolan rekening nasabah. Selanjutnya, pihaknya akan memanggil mantan Kepala Kantor Cabang Pembantu Bank Mandiri Sidrap, Andi Rachmat Samaiyo.

Apabila tak mengindahkan pemanggilan, pihaknya bisa saja menankapnya. “Kami janji ungkap kasus ini. Ini sudah masuk kejahatan perbankan. Saya tentunya koordinasi pula dengan BNN,” akunya.

Sebelumnya, Podda mengakui, pernah bertemu dengan Rosani. Ia adalah orang yang membujuknya menabung di Bank Mandiri. Pertemuan itu terjadi, sebelum Rosani menghilang dan diamankan kepolisian.

“Dia bilang ke saya, betul saya (Rosani) yang pegang ATM bapak. Saya belum tanya uang saya ia sudah tergesa-gesa pulang,” ujarnya.

Tabungan yang diprotes Podda ini, sebenarnya rekening atas nama Gusnani yang tak lain istrinya. Hingga kini isinya yang terkuras oleh oknum tertentu, belum kembali. Podda bahkan terus mempersoalkan masalah ini. Ia mendesak Bank Mandiri mengembalikannya.

Bila tidak, warga Sidrap ini berencana akan kembali menduduki bank milik pemerintah itu. Rencananya, Senin, 26 Agustus, ia akan ke sana lagi. “Pak, ini ada transaksi 38 kali dalam sehari di rekening istri saya. Bila ditotal, ada 1,9 miliar. Itu tanpa sepengetahuan saya,” katanya, kemarin.

Podda menegaskan, transaksi ini tak mungkin dilakukan di luar bank. Tetapi, di dalam bank. Jika menggunakan kartu ATM, itu sudah tak mungkin. “Limit bertransaksi memakai kartu ATM kan jelas. Rp100 juta sekali transaksi. Jadi ini besar kemungkinan dilakukan di dalam kantor bank itu,” sesalnya.

Manager Regional Operation Head Wilayah X Sulawesi Maluku Bank Mandiri, Beny Setiawan, irit bicara. Beny mengaku kecewa atas pemberitaan yang ada selama ini.

Meski begitu, sebelumnya Beny mengatakan, dalam keterangannya di Pangkajene, Sidrap, Senin, 19 Agustus, didampingi Harri N Sujiono selaku Kepala Area Head Wilayah Parepare, hilangnya uang nasabah itu dilakukan oleh karyawan AXA Mandiri.

“Itu perbuatan oknum berinisial RS dan AR. Keduanya karyawan AXA Mandiri. Ini yang sementara kami koordinasikan dengan Kapolres Sidrap,” katanya.

Sejauh ini dari data yang dihimpun, RS adalah Rosani dan AR adalah Andi Rachmat Samaiyo. Rosani adalah karyawan AXA Mandiri sedangkan Andi Rachmat adalah mantan Kepala Cabang Perwakilan (KCP) Bank Mandiri, Sidrap.

Diakuinya, adanya slip transaksi uang tabungan nasabah Gusnani, istri Podda, sebanyak 38 kali itu. Disebutnya bukan pihak Bank Mandiri yang melakukannya. Tetapi, kedua oknum ini.

“Malahan pihak kami dirugikan. Karena semua slip transaksi yang dipegang nasabah atas nama H Podda itu justru telah dipalsukan kedua oknum tersebut. Setelah kami investigasi, baru kemudian diambil langkah hukum selanjutnya,” tutupnya.

Selain Podda, sebenarnya masih ada nasabah lainnya yang mengaku dana di rekeningnya hilang. Mereka; Lali, Wa Lanto, Hakim, dan Warni. Dana yang hilang bervariasi.

Mulai dari Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Hanya saja, hingga kemarin, mereka belum diperiksa kepolisian. Hanya Podda.

Salah seorang nasabah yang mengaku kehilangan dana di rekeningnya, Citra mengaku tak ingin berkomentar. Ia mengaku takut.

“Saya diminta diam dahulu. Kalau mauki, bicara saja dengan kuasa hukum-ku,” pintanya.
Orang Internal

Pengamat Ekonomi Bidang Manajemen Keuangan dan Perbankan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Mursalim Nohong, mengatakan, tak mungkin ada transaksi dana keluar tanpa sepengetahuan pihak bank. Itu mustahil. Apalagi, jika itu dalam jumlah besar.

“Kalau bukan internal, itu bisa berarti sistemnya dibobol. Security sistem-nya pasti bermasalah,” ujarnya.

Namun, kata dia, soal diretas, itu kecil kemungkinan. Besar kemungkinan itu dilakukan orang dalam. Lagi-lagi bila itu dilakukan dalam jumlah banyak.

Katakanlah, seperti pengakuan korban, Podda bahwa dalam sehari, ada 38 kali transaksi. Apalagi jumlahnya sekali transaksi Rp50 juta. “Sepengetahuan saya nilai Rp10 juta saja itu sudah harus ada otorisasi (persetujuan) dari si pemilik oleh pihak bank,” bebernya.

Ditambahkannya, akan lucu jika pihak bank masih menyangkal hal ini. Tak tahu bila ada transaksi mencurigan di bank mereka. Apalagi, bila kepala unit, kepala cabangnya tak tahu. Itu sangatlah mustahil. Tak mungkin seorang teller melakukannya.

“Bank Mandiri jangan diam. Kepercayaan mereka kini tergadaikan. Ingat, biasanya untuk setiap transaksi di atas puluhan juta, itu harus diketahui kepala cabang. Kalau ini tidak, aneh. Saya yakin ada permainan,” terangnya.

Sebenarnya, hal ini bisa dilacak kepolisian atau pihak Bank Mandiri sendiri jika memang mau memerangi mafia bank. Pelototi saja rekening korannya.

“Di zaman modern ini cara-cara seperti ini sebenarnya sudah kuno. Semua orang pasti tahu, ini permainan internal,” urainya.

“Sekali lagi ini memang lucu. Verifikasi data pastinya harus dilakukan bila ada transaksi uang besar hendak dilakukan. Kalau tidak, ya, pasti orang yang diberikan wewenang. Tetapi kan Podda tak tahu transaksi ini. Jadi internal dong,” tutupnya.

(sua/abg-zuk)

 

Sumber: fin.co.id

  • Dipublish : 23 Agustus 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami