Pemerintah Akui Tes Covid-19 Anjlok di Bawah Target WHO Selama 5 Pekan

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, pemerintah telah mengupayakan upaya maksimal untuk dapat mensinkronisasi data kasus Covid-19. (dok Satgas Covid-19)
Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, pemerintah telah mengupayakan upaya maksimal untuk dapat mensinkronisasi data kasus Covid-19. (dok Satgas Covid-19)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Kasus Covid-19 selama beberapa pekan mengalami penurunan di bawah 10 ribu kasus dibandingkan beberapa pekan lalu sejak Januari hingga awal Februari. Hari ini, Kamis (18/2), meski ada penambahan kasus harian sebesar 9.039 namun jumlah tes tetap saja masih rendah di bawah 30 ribu tes.

Hanya ada 24.248 spesimen yang diperiksa. Dan hanya 22.556 orang diperiksa. Dengan begitu angka positivity rate harian yakni hasil positif kumulatif (9.039 kasus) dibagi jumlah orang yang diperiksa kumulatif lalu dikali 100 menembus rekor yaitu 40 persen. Positivity rate nasional mencapai 18,5 persen.

Menanggapi hal ini, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, pemerintah telah mengupayakan upaya maksimal untuk dapat mensinkronisasi data kasus Covid-19 maupun data kesehatan lainnya yang terkait di pusat dan daerah.

Semenjak dikeluarkan Perpres 39/19, tentang satu data, kata dia, upaya untuk mewujudkan manajemen satu data termasuk data kesehatan antara seluruh sektor terkait terus dilakukan hingga saat ini.

 Prof Wiku mengakui penurunan penambahan kasus di minggu ini cukup besar dibandingkan minggu sebelumnya, yaitu 25 persen. Penurunan ini adalah penurunan terdrastis yang pernah terjadi dalam kurun waktu 1 minggu selama pandemi

“Jika dilihat, ada beberapa hal yang berkontribusi dalam penurunan kasus, yang salah satunya juga adalah penurunan testing mingguan,” katanya dalam konferensi pers virtual, Kamis (18/2).

Prof Wiku mengakui minggu ini terjadi penurunan testing yang cukup drastis bahkan mematahkan rekor ketercapaian target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebab standar WHO semestinya angka positivity rate harus di bawah 5 persen.

“Jumlah testing menurun mematahkan rekor WHO selama 5 minggu berturut turut sejak minggu kedua Januari,” kata dia.

Melihat angka itu, semua pihak diminta dapat ambil pelajaran bahwa upaya 3T (testing, tracing, dan treatment) harus dilakukan secara konsisten terus menerus dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Sebab jumlah testing sangat mempengaruhi besar kecilnya jumlah kasus positif baru yang dapat terjaring.

“Meski terjadi penurunan, masih terdapat 5 provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi, yaitu NTT, Sumatera Utara, Maluku Utara, Kalimantan Selatan dan Banten,” tutupnya. (jp)

  • Dipublish : 19 Februari 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami