Pemkot Pertanyakan Pelabelan Warna Hitam di Peta Covid-19 Surabaya

Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya M. Fikser. (Humas Pemkot Surabaya/Antara)
Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya M. Fikser. (Humas Pemkot Surabaya/Antara)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

SURABAYA– Pemerintah Kota Surabaya menyikapi pelabelan warna hitam maupun merah pekat di peta persebaran Covid-19 di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu. Pemkot Surabaya menyatakan lebih fokus terhadap percepatan penanganan Covid-19 dengan pemutusan mata rantai di level bawah dari pada harus mengurusi pelabelan warna.

Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya M. Fikser seperti dilansir dari Antara di Surabaya mengatakan, sesuai dengan tahapan protokol masyarakat produktif dan aman Covid-19 yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hanya ada empat warna dalam peta persebaran Covid-19. ”Hijau, kuning, oranye, dan merah. Sedangkan warna merah tua (pekat) dan hitam tidak ada dalam tahap protokol itu,” kata Fikser pada Jumat (5/6).

Pernyataan Fikser tersebut menanggapi komentar dari Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur Joni Wahyuhadi yang menyebut, Kota Surabaya terlihat berwarna hitam dalam beberapa hari terakhir. Warna hitam itu menunjukkan kasus Covid-19 di daerah tersebut lebih dari 1.025 kasus.

”Alangkah baiknya jika pemerintah itu lebih fokus bekerja pada penanganan Covid-19. Salah satunya dengan melakukan percepatan-percepatan melalui rapid test masal dan diikuti swab,” ujar Fikser.

Fikser menjelaskan, dalam pedoman yang telah ditentukan BNPB, warna hijau ada pada level 1 adalah aman. Artinya, risiko penyebaran virus ada tetapi tidak ada kasus positif. Sedangkan warna kuning ada pada level 2 adalah risiko ringan. Artinya penyebaran terkendali tetapi ada kemungkinan transmisi lokal. Kemudian warna oranye pada level 3 adalah risiko sedang. Artinya, risiko tinggi penyebaran dan potensi virus tidak terkendali. Sedangkan warna merah level 4 adalah risiko tinggi yang berarti penyebaran virus tidak terkendali.

”Jadi ini (warna) yang kami tahu. Kalau warna merah pekat itu kami tidak pernah tahu, apalagi warna hitam. Jadi dalam pemberian warna itu seharusnya berpedoman pada aturan-aturan yang sudah ada,” tutur Fikser.

Dia menegaskan, berdasar tahap pada pedoman BNPB tersebut, warna merah berada pada level tertinggi dan bukan hitam atau merah pekat. Untuk itu, jika ada yang menyebut warna merah pekat atau hitam seharusnya bisa menjelaskan kriterianya seperti apa.

”Kalau ada yang menyebut label warna merah pekat dia itu punya level kriterianya seperti apa? Jadi, biarkan pemkot bekerja untuk mengurus warga Surabaya,” ucap Fikser. (jp)

  • Dipublish : 5 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami