Peneliti Singapura Temukan Manfaat Obat Kanker untuk Pasien Covid-19

FOTO: AFP ISOLASI: Petugas medis mengenakan pakaian pelindung untuk membantu menghentikan penyebaran virus Corona mematikan yang dimulai di Kota Wuhan.
FOTO: AFP ISOLASI: Petugas medis mengenakan pakaian pelindung untuk membantu menghentikan penyebaran virus Corona mematikan yang dimulai di Kota Wuhan.
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JARINGAN MEDIA – Peneliti di Singapura membuktikan obat yang digunakan dalam pengobatan kanker dapat digunakan untuk pasien dengan kondisi gejala Covid-19 sedang hingga parah. Peneliti menemukan bahwa Topotecan, yang digunakan sebagai pengobatan kemoterapi bisa mengurangi tingkat keparahan dan kematian akibat infeksi Sars-CoV-2.

Obat itu bekerja dengan menekan peradangan di paru-paru hewan dalam uji coba di laboratorium. Pasien Covid-19 sedang hingga parah menderita peradangan, akibat respons imun abnormal yang terlalu aktif. Pada beberapa pasien, respons imun yang berlebihan dapat membanjiri area yang terinfeksi dengan sel darah putih, mengakibatkan peradangan parah, kerusakan jaringan, dan seringkali kematian.

Topotecan bekerja dengan cara mengekang respons imun ini, mengurangi risiko cedera pada tubuh. Pasien diberikan dengan dosis yang lebih rendah daripada yang biasanya digunakan dalam pengobatan kanker, sehingga secara signifikan mengurangi kemungkinan efek samping dari obat tersebut.

Respons imun juga belum sepenuhnya dihilangkan, dengan hewan laboratorium masih mampu memproduksi antibodi untuk menanggulangi virus tersebut. Penelitian yang dipimpin oleh Associate Professor Ivan Marazzi dari Departemen Mikrobiologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di Amerika Serikat, melibatkan peneliti dari National University Cancer Institute, Singapura (NCIS). Penemuan ini dipublikasikan secara online di jurnal ilmiah Cell pada 30 Maret.

Seorang rekan penulis studi tersebut, yang merupakan konsultan dan asisten direktur penelitian onkologi medis di Departemen Hematologi-Onkologi di NCIS dr. Anand Jeyasekharan mengatakan dengan obat yang digunakan dalam pengobatan kanker selama lebih dari 25 tahun, maka sudah tersedia secara global dan tidak mahal. Dengan profil keamanan yang dipahami dengan baik pada manusia.

“Oleh karena itu, penelitian ini tepat waktu mengingat kurangnya akses universal terhadap vaksin,” katanya seperti dilansir dari Straits Times, Jumat (9/4).

Penyelesaian studi laboratorium yang berhasil telah mengarah pada uji klinis fase I di India, mengingat tingginya jumlah kasus Covid-19 sedang hingga parah di sana. Tim tersebut telah mendapatkan dana penelitian untuk uji klinis. Penelitian ini didukung oleh Dewan Riset Medis Nasional Kementerian Kesehatan Singapura dan Yayasan Riset Nasional.

Sekitar 20 pasien dewasa dengan Covid-19 sedang dan riwayat kanker akan direkrut. Mereka akan diberi Topotecan selain steroid deksametason dan obat antivirus remdesivir. Keduanya saat ini digunakan untuk mengobati Covid-19.

“Pasien kanker direkrut karena mereka memiliki risiko penyakit parah yang lebih tinggi dan juga akrab dengan konsep pengobatan kemoterapi,” kata dr. Jeyasekharan.

“Setelah dosis yang tepat telah ditetapkan pada fase satu, tujuannya adalah untuk membawa ini maju ke semua kasus Covid-19 yang moderat, tidak hanya untuk pasien kanker,” jelasnya.

Pasien akan diberikan dosis tunggal pada fase I. Enam pasien pertama akan diberikan 0,25 mg obat. Jika tidak ada efek samping yang diamati, dosis 0,5mg yang sedikit lebih tinggi kemudian akan diberikan kepada enam pasien berikutnya. Jika tidak ada efek samping yang diamati, dosis kemudian akan ditingkatkan menjadi 0,75 mg untuk enam pasien berikutnya.

Tingkat dosis tambahan dapat ditambahkan jika diperlukan, berpotensi memperluas percobaan ke 24 pasien. Dosis ini secara signifikan lebih rendah daripada yang diberikan kepada pasien kanker, yaitu sekitar 2mg sehari selama tiga sampai lima hari.

“Tujuan dari uji klinis I satu adalah untuk menetapkan dosis Topotecan terendah yang dapat dengan aman mengurangi penanda inflamasi Covid-19 pada pasien. Kami ingin memulai dari dosis serendah mungkin dan kemudian perlahan-lahan membangunnya dari sana,” kata Dr Jeyasekharan.

Pasien akan dipantau tiga indikator yakni penggunaan tes darah untuk memeriksa penanda peradangan; memeriksa tingkat obat yang sebenarnya di dalam darah untuk memastikan bahwa obat tersebut tetap dalam tingkat yang aman; dan terakhir memeriksa status klinis pasien seperti apakah mereka mengalami sedikit atau banyak kesulitan bernapas.

Percobaan diharapkan berlangsung antara tiga dan enam bulan, tergantung pada seberapa cepat pasien yang cocok direkrut. Satu botol Topotecan, yang berisi 4mg obat, harganya sekitar USD 60 di Singapura.

Jika uji klinis fase satu berhasil, fase kedua akan dimulai, dengan kumpulan pasien yang lebih besar yang direkrut dari berbagai negara. Parameter tambahan juga akan dilacak, seperti waktu yang dibutuhkan pasien untuk keluar dari unit perawatan intensif dan tingkat kelangsungan hidup pasien.

“Penggunaan kembali obat yang ada merupakan strategi global yang berharga untuk mengobati Covid-19. Topotecan adalah kandidat yang menarik karena aman dan murah dengan formulasi generik yang ada di seluruh dunia,” kata dr. Jeyasekharan. (jm/jawapos)

  • Dipublish : 9 April 2021
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami