Pengemudi Ojol Ancam Unjuk Rasa, Jika Nadiem Jadi Menteri

FOTO: FAISAL R SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
FOTO: FAISAL R SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Founder sekaligus CEO Gojek, Nadiem Makariem menerima ajakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai menteri di kabinet Kerja Jilid II. Namun, pengemudi ojek online (ojol) mengancam akan mengerahkan massa dalam jumlah besar agar menolak menjadi pembantu presiden.

“Ojol tidak setuju apabola Nadiem Makariem jadi salah satu menterinya Jokowi. Akan ada pergerakan seluruh Indoenesia sebagai bentuk penolakan,” ujar Ketua Presidium Nasional Gabungan Aksi Roda Dua (Garda), Igun Wicaksono, kemarin (21/10).

Igun mengungkapkan, telah melakukan komunikasi dengan ojol dari sejumlah daerah, seperti Sumater dan Jawa siap datang ke Jakarta demi penolakan tersebut.

“Ketua-ketua ojol dari berbagai daerah di Sumatera dan Jawa sudah komunikasi dengan saya, mereka siap bawa massa ojol untuk masuk Jakarta, melakukan aksi unjuk rasa besar penolakan Nadiem jadi menteri,” kata Igun.

Alasan penolakan ojol, karena bos Gojek itu belum mensejahterakan para pengemudi ojol. “Nadiem Makarim boleh besar dengan berderet gelar akademik dan valuasi Gojeknya yang triliunan rupiah. Namun dibalik itu, jutaan para mitra ojek onlinenya berdarah-darah di lapangan dan jauh dari sejahtera dari segi pendapatan. Intinya ojol mitranya belum Happy,” tutur Igun.

Terpisah, Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah mengaku heran dengan pengemudi ojol yang melakukan penolakan itu. Padahal sebagai warga negara memiliki hak dan tidak boleh diintervensi.

“Saya tidak paham dengan penolakan ojol Tidak ada alasan menolak Nadiem Makarim jadi menteri. Nadiem punya kapasitas dan punya hak,” kata Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (21/10).

Sementara Rektor UI, Ari Kuncoro mengatakan, Nadiem Makarim dengan memiliki latar belakang sebagai bakal melahirkan kebijakan-kebijakan yang kreatif bagi pemerintahan.

“Idenya banyak karena menggunakan data. Berpikir juga harus out of the box. Yang penting idenya. Ini yang disebut behavioural economics,” ujar Ari.

Soal akan terjadi konflik kepentinga, Ari memastikan tidak akan terjadi sebab Nadiem telah mengundurkan diri dari Gojek.

“Itu bisa diatur. Karena kalau birokrasi kan point of view-nya pada output tapi kalau pengusaha ialah yang mengisi teka-tekinya. Yang penting pensiun dulu dari CEO,” ucap dia.

Sebelumnya Nadiem bersedia tawaran Presiden Jokowi untuk menduduki kuris menteri. “Saya bersedia, saya menerima,” kata Nadiem, kemarin (21/10).

Diajak bergabungnya dalam pemerintah Jokowi, Nadiem mengaku sebuah kehormatan. Hal itu, kata dia, Indonesia siap maju ke depan dengan melakukan inovasi.

“Saya merasa ini suatu kehormatan untuk saya, saya diminta untuk bergabung ke kabinet presiden. Saya menerima dan saya sangat senang sekali hari ini karena ini menunjukkan bahwa kita siap maju ke depan dan siap berinovasi ke depan,” ujar dia.

Soal posisi menteri, Nadiem mengatakan, nanti presiden sendiri yang akan mengumumkannya. “Mengenai posisi spesifik akan diumumkan oleh bapak sendiri, Pak Presiden,” kata Nadiem.

Dan, hari ini juga Nadiem telah mengundurkan diri sebagai founder dan CEO Gojek. Sehingga per hari ini tidak ada kewenangan apapun tentang tranportasi online itu. (fin)

  • Dipublish : 22 Oktober 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami