Pengenaan Cukai Minuman Manis Gerus Penerimaan Pajak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebutkan pengenaan cukai terhadap minuman berpemanis berpotensi meningkatkan peneirmaan pajak hingga mencapai Rp6,25 triliun. Namun bagi pelaku usaha sebaliknya, akan menurunkan pemasukan negara.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman mengatakan, kebijakan tersebut bila direalisaikan akan menurunkan pendapatan pajak neagra, terutama berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan (PPh) Badan, dan Pajak Penghasin (PPh) 21

“Justru membuat PPN, PPh badan dan PPh 21 turun,” ujar Adhi, kemarin (20/2).

Dia menjelaskan, pengenaan cukai akan mendorong pelaku usaha untuk menaikkan harga pada produknya. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan pendapatan mereka.

Alhasil, lanjut dia, bila harga dinaikkan, maka akan berimbas pada daya beli masyarakat. Kondisi demikian tentu akan menurunkan penjualan para pelaku usaha, sehingga iklim usaha akan ‘redup’.

“Pengenaan cukai akan menaikkan harga dan akhirnya menurunkan daya beli masyarakat, lalu menurunkan penjualan, tentu nanti berpengaruh juga kepada pendapatan pajak,” tutur dia.

“Jadi total dari semua produk berpemanis itu potensi penerimaan negara bisa mencapai Rp6,25 triliun,” ujar bendahara negara itu.(din/fin)

Untuk berapa angka kerugian yang dirasakan para pengusaha, pihaknya mengaku belum menghitungnya. Saat ini masih dilakukan penghitungan.

“Belum dihitung ulang, tahun 2012 pernah dikaji lembaga independen, tapi kan sekarang kondisinya sudah berubah, jadi harus dikaji ulang dulu,” ucap dia.

Dia mengkoreksi pernyataan Menteri Sri Mulyani yang menyebutkan pemerintah mengenakan cukai pada produk minuman ringan untuk menurunkan jumlah penderita diabetes, menurut dia tidak tepat. Sebenarnya, kata dia, masih banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk menurunkan jumlah penderita diabetes di Indonesia.

“Pada dasarnya belum ada data yang menunjukkan pengenaan cukai bisa menurunkan PTM (Penyakit Tidak Menular seperti Diabetes) dan obesitas. Kalau tujuannya seperti itu maka tidak tepat sasaran,” ujar dia.

Kepala Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menilai pengenaan cukai minuman manis banyak menimbulkan negatif, terutama menekan pertumbuhan ekonomi.

“Dan berdampak negatif terhadap inflasi, menggerus daya beli. Ujungnya konsumsi dan pertumbuhan ekonomi bisa semakin tertekan,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (20/2).

Menurut Piter, kebijakan yang diusulkan Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu untuk mengantisipasi tidak tercapainya penerimaan paak sehingga pemerintah mencari cara meningkatkan penerimaan pajak, salah satunya terhadap minuman berpemanis.

“Padahal tujuan dari cukai adalah pengendalian bukan penerimaan,” pungkas Piter.

Sebagaimana yang diusulkan Menteri Sri Mulyani, bahwa pengenaan tarif cukai untuk produk minuman berpemanis untuk mengurangi pengidap diabetes di Tanah Air.

Dengan cukai itu, diharapkan konsumsi masyarakat bisa berkurang. Paslanya, dalam kurun waktu 11 tahun prevalensi diabetes melitus dan obesitas meningkat hampir dua kali lipat di Indonesia.

Produk yang dikenakan cukai adalah minuman yang mengandung pemanis baik gula dan pemanis buatan yang siap untuk dikonsumsi, dan minuman yang dikemas dalam bentuk sachet.

Sedangkan, untuk produk yang dibuat dan dikemas secara non pabrikasi, madu dan jus sayur tanpa tambahan gula, serta barang yang diekspor, rusak, dan musnah, tidak dikenai cukai.

Salah satu produk yang dikenai cukai adalah teh kemasan. Potensi produk ini berjumlah 2.191 juta liter dengan tarif cukai Rp1.500 per lita, maka potensi penerimaan untuk negara sebesar Rp2,7 triliun.

Sementara untuk produk minuman karbonasi biaya tarifnya Rp2.500 per liter dan produk minuman lainnya seperti energy drink, kopi konsentrat dan sejenisnya dikenakan biaya yang sama yaitu sebesar Rp2.500 per liter.

  • Dipublish : 21 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami