Penguatan Rupiah Masih Wajar

Ilustrasi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Menjawab pernyataan Presiden Joko Widodo terkait Rupiah terlalu menguat perlu diwaspadai karena akan berdampak pada daya saing yang menurun, Bank Indonesia (BI) mengatakan, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) masih sesuai dengan nilai fundamental.

“Penguatan Rupiah masih sejalan dengan fundamental, mekanisme pasar,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu (22/1).

Selama ini, katanya BI selalu rutin melaporkan pergerakan nilai tukar Rupiah kepada Jokowi bahwa penguatan Rupiah masih tahap wajar.

“Saya laporkan waktu itu penguatan Rupiah masih sejalan dengan fundamental. Pertumbuhan meningkat dan juga kemudian neraca pembayaran surplus. Aliran modal asing masuk makanya sejalan dengan mekanisme pasar,” papar dia.

Menurut dia, dampak penguatan nilai tukar mata uang Garuda berbeda dengan mata uang asing. Penguatan nilai tukar tersebut utamanya langsung berdampak pada investasi dalam negeri.

“Penguatan nilai tukar di Indonesia itu memang bisa mendorong investasi dalam negeri karena banyak industri kandungan impor tinggi termasuk juga mendorong ekspor khususnya manufaktur,” jelas dia.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan awal tahun ini terus bergerak menguat bahkan sempat menyentuh level Rp13.627 per Dolar AS, terkuat sejak Maret 2018. Rupiah terkuat di antara mata uang negara ASEAN hamir tiga pekan pertama tahun ini.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual mengatakan, pendorong utama penguatan Rupiah saat ini adalah derasnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia.

“Indonesia dianggap masih menarik dari sisi imbal hasil, terbukti dari hasil lelang yang cukup bagus,” ujar David.

Berdasarkan data BI, aliran modal asing yang masuk dalam 10 hari pertama tahun ini mencapai Rp10 triliun. Jumlah tersebut pun diperkirakan sudah meningkat signifikan saat ini.

Dia memproyeksikan, Rupiah akan menguat sepanjang tahun ini seiring masih derasnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia. Tahun lalu, dana asing yang masuk ke investasi portofolio mencapai Rp224 triliun. Alhasil, Rupiah berhasil menguat 3,8 persen sepanjang tahun lalu.

Selain itu, lanjut dia, penguatan Rupiah juga karena harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang membaik pada tahun ini.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengapresiasi penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dalam awal tahun 2020 ini. Namun, Mantan Gubernur DKI Jakafrta itu akan berdampak pada eksportir, yakni akan menurunkan daya saing ekspor.

“Kalau menguatnya terlalu cepat kita harus hati-hati. Ada yang senang ada yang tidak senang. Eksportir pasti tidak senang karena Rupiah menguat, sehingga daya saing kita akan menurun,” ujar Jokowi.(fin.co.id)

  • Dipublish : 23 Januari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami