Penolak Pemakaman Jenazah Covid-19 Divonis 3,5 Bulan Penjara

Hakim Ketua Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti didampingi Hakim Anggota Randi Jastian Afandi (kiri) dan Suryo Negoro (kanan) saat membacakan putusan perkara penolakan pemakaman jenazah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan terdakwa Khudlori di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Banyumas, Kamis (6/8). (Sumarwoto/Antara)
Hakim Ketua Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti didampingi Hakim Anggota Randi Jastian Afandi (kiri) dan Suryo Negoro (kanan) saat membacakan putusan perkara penolakan pemakaman jenazah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan terdakwa Khudlori di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Banyumas, Kamis (6/8). (Sumarwoto/Antara)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA–Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banyumas menjatuhkan vonis 3 bulan 15 hari dan denda Rp 500 ribu kepada salah seorang terdakwa kasus penolakan pemakaman jenazah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sidang dengan agenda pembacaan putusan yang dipimpin Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti serta Hakim Anggota Randi Jastian Afandi dan Suryo Negoro di Ruang Sidang I PN Banyumas, digelar secara daring melalui konferensi video pada Kamis (6/8). Terdakwa Khudlori mengikuti sidang dari Ruang Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Banyumas di Purwokerto, Jaksa Penuntut Umum Dimas Sigit Tanugraha di Kejaksaan Negeri Banyumas, dan penasihat hukum terdakwa, Sarjono di PN Banyumas.

Saat membacakan putusan, Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti menyatakan, terdakwa Khudlori telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam undang-undang. Terdakwa dinyatakan melakukan tindak pidana sebagaimana ketentuan pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah menular seperti yang tercantum dalam dakwaan ketiga.

”Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana 3 bulan 15 hari dan denda Rp 500 ribu dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan,” kata Ardhianti seperti dilansir dari Antara.

Menurut dia, majelis hakim juga menetapkan pidana yang dijatuhkan tersebut dikurangi dengan masa tahanan yang telah dijalani terdakwa. Setelah membacakan putusan, Hakim Ketua Ardhianti Prihastuti mempersilakan terdakwa Khudlori untuk menyampaikan menerima, menolak, atau pikir-pikir atas putusan tersebut.

Terkait dengan putusan tersebut, penasihat hukum terdakwa, Sarjono menyatakan pikir-pikir. ”Kami akan pikir-pikir dalam waktu tujuh hari,” kata Sarjono.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Dimas Sigit Tanugraha juga menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut.

Saat ditemui wartawan usai sidang, penasihat hukum terdakwa, Sarjono menilai putusan tersebut cukup baik jika dilihat dari sisi kemanusiaan karena lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum, yakni pidana penjara selama 7 bulan.

”Dari sisi hukum, kami punya waktu tujuh hari untuk pikir-pikir, apakah akan mengadakan upaya hukum lagi, apakah menerima. Kami perlu koordinasi lagi dengan terdakwa yang sekarang di tempat lain, yaitu di Polresta Banyumas,” kata Sarjono.

Dia mengatakan, dakwaan ketiga yang menurut majelis hakim terbukti, bagi penasihat hukum tidak terbukti. Contohnya, berdasar keterangan saksi, jarak pemakaman dengan balai desa sejauh 100 meter. ”Jarak itu sebenarnya diukur sekitar 20–30 meter. Kenapa terdakwa mengajukan keberatan, karena terlalu dekat dengan permukiman penduduk,” ujar Sarjono.

Kasus penolakan pemakaman jenazah pasien positif Covid-19 tersebut terjadi pada Selasa (31/3) sore, di Desa Kedungwringin, dan selanjutnya dipindahkan ke Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, pada malam harinya. Tetapi jenazah yang baru dimakamkam di Desa Tumiyang pada Selasa (31/3) malam, akhirnya dibongkar kembali pada Rabu (1/4), karena ada penolakan dari warga setempat dan desa tetangga, yakni Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok. Pembongkaran makam tersebut dipimpin Bupati Banyumas Achmad Husein dan selanjutnya dimakamkan ke desa lain.

Polresta Banyumas memecah kasus penolakan pemakaman jenazah pasien positif Covid-19 itu dalam dua TKP, karena Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja masuk wilayah Kejaksaan Negeri Banyumas dan Pengadilan Negeri Banyumas, sedangkan Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen masuk wilayah Kejari Purwokerto dan PN Purwokerto. Sebanyak empat tersangka dilimpahkan Polresta Banyumas ke Kejari Banyumas, tiga orang di antaranya telah disidangkan di PN Banyumas (termasuk yang telah divonis) dengan tiga berkas perkara berbeda dan satu orang masih pemberkasan. Tiga tersangka lain telah dilimpahkan ke Kejari Purwokerto dan saat ini masih dalam proses persidangan di PN Purwokerto. (jp)

  • Dipublish : 6 Agustus 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami