Penyerang Novel Tetap Dituntut Setahun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JAKARTA – Penyerang penyidik senior KPK, Novel Baswedan tetap dituntut setahun penjara. Dalil kuasa hukum Rahmat Kadir Mahulette yang menyebut penyerangan dilakukan spontan ditolak jaksa.

Dua terdakwa penyerang Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis tetap dituntut setahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Jakarta Utara. Pernyataan itu diungkapkan jaksa Satria Irawan saat pembacaan replik di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

“Kami jaksa penuntut umum meminta Yang Mulia menolak nota pembelaan yang disampaikan penasihat hukum terdakwa. Penuntut Umum tetap berpegang pada surat tuntutan yang sudah kami bacakan pada Kamis, 11 Juni 2020,” kata Satria saat membacakan replik di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (22/6).

Satria menilai keduanya terbukti melakukan dakwaan subsider pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dalam paparan repliknya, Satria juga menolak sejumlah dalil yang disampaikan para penasihat hukum dalam pledoi yang disampaikan pada 15 Juni 2020.

“Mengenai alasan memberi pelajaran, penurut penuntut hukum, terdakwa Rahmat Kadir Mahulette sudah punya ‘mens rea’ dengan tidak menceritakan maksudnya bahkan kepada Ronny Bugis dan bahan asam sulfat yang sudah dipersiapkan diencerkan dengan air sehingga kadar lebih rendah dan diarahkan ke badan korban. Kesengajaan itu adalah kehendak atau mengetahui apa yang harus diperbuat,” ungkap Satria.

Selain itu, jaksa juga menolak dalil penasihat hukum yang mengatakan kerusakan mata Novel karena kesalahan penanganan pasca penyiraman, bukan karena siraman.

“Dalil kerusakan mata korban bukan karena perbuatan terdakwa tapi kesalahan penanganan tidak dapat diterima. Sebab korban mengalami kerusakan kornea mata kanan dan kiri yang membuat potensi kebutaan atau kurangnya panca indra sesuai dengan visum et repertum sehingga telah menyebabkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan/pencarian sementara waktu,” tambah Satria.

Dalam pledoi, pengacara Rahmat menilai Novel tidak mengikuti petunjuk dokter untuk pembersihan mikrotik ke bola mata di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, malah langsung dibawa ke JEC dan selanjutnya ke Singapura yang menyebabkan Novel mengalami komplikasi dan penglihatannya menurun.

Sedangkan soal penyerangan dilakukan tanpa rencana melainkan secara instan, JPU juga membantahnya.

“Terdakwa telah sengaja mencari alamat, meminjam motor, melakukan survei dan selanjutnya menyiramkan cairan asam sulfat yang dicampur dengan air yang menyebabkan cacat mata permanen bukanlah spontanitas karena sudah menciptakan cacat mata permanen,” ungkap jaksa.

Atas replik tersebut, pengacara Rahmat dan Ronny akan membacakan duplik secara tertulis pada Senin, 29 Juni 2020.

Sebelumnya, Koordinator Tim Advokasi Novel, Arif Maulana, melihat banyak kejanggalan dalam proses persidangan.

“Sidang ini formalitas, maka kita bilang ini sidangnya sandiwara dan keliru. Ada beberapa kejanggalan persidangan,” ujarnya.

Kejanggalan pertama menurut dia adalah manipulasi fakta dan alat bukti. Hal ini, bisa dilihat dari tidak adanya saksi-saksi dalam persidangan.

Kejanggalan berikutnya adalah dakwaan berupa tindak penganiayaan. Terdakwa dituntut melanggar Pasal 353 Ayat (2) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan yang direncanakan terlebih dahulu.

“Kejanggalan lainnya, kuasa hukumnya itu dulu adalah penyidik yang menangani kasus ini, tapi sekarang membela terdakwa. Ini hal yang ironis, conflict of interest-nya jelas sekali nampak,” katanya.

Selain itu, status dua terdakwa sebagai seorang polisi berpangkat bripka yang hingga kini belum jelas. Jika terjerat kasus, harusnya dua terdakwa dinonaktifkan dari tugas kepolisian.

“Apakah sekarang sudah ada informasi dua terdakwa ini nonaktif atau sudah menjalani sidang disiplin. Terdakwa harusnya diberhentikan sementara ketika ada kasus,” jelas Arif.

Kejanggalan lain, adalah sikap jaksa yang justru menjadi pembela terdakwa. Hal ini terlihat dari sikap jaksa yang justru memberikan pertanyaan menyudutkan pada Novel.

“Jaksa juga menanyakan soal kasus sarang burung walet yang tidak ada relevansinya,” tuturnya.

Kemudian, hakim persidangan yang sangat pasif. Bahkan, menurut Arif, hakim mengabaikan hasil investigasi Komnas HAM dan Ombudsman yang diberikan tim hukum Novel.

“Hakim kasus Novel sangat pasif, bahkan tim kuasa hukum sudah memberikan hasil investigasi namun tidak digubris,” ujar Arif.

Terakhir, kejanggalan ringannya tuntutan yang dijatuhkan jaksa kepada terdakwa, yakni satu tahun penjara dengan alasan tidak sengaja.

Sementara Irwansyah Siregar yang pernah terlibat pada kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu ketika Novel aktif sebagai anggota kepolisian, hadir dalam sidang pembacaan replik oleh jakasa. Dia mengaku datang untuk mencari keadilan.

“Kedatangan saya hari ini untuk mencari keadilan dan sekalian melihat aksi dan reaksi seorang Novel Baswedan. Dia kan sebagai WNI sudah terpenuhi haknya kan, pelaku sudah tersangka, sementara kami belum, kami kan korban Novel Baswedan,” kata Irwansyah di PN Jakarta Utara.

Dia mengaku hingga kini belum mendapat keadilan. Oleh karena itu, dia meminta agar Novel segera diadili terkait kasus sarang burung walet.

“Kami sudah melakukan hukum sudah mengajukan prapid menang, sementara beliau belum disidangkan. Kita kan sama di mata UU kan yang mendapat perlindungan UU. Jadi itu yang kami kejar sekarang,” katanya.

Irwansyah merupakan salah satu terduga pencurian sarang burung walet di Bengkulu. Dia mengaku dianiaya oleh anggota reserse di bawah kepemimpinan Kasat Reskrim Polres Bengkulu yang saat itu dijabat oleh Novel Baswedan.

Kasus dugaan penganiayaan yang menyeret Novel Baswedan terjadi pada 2004. Kasus ini telah dihentikan di tingkat Kejaksaan dan tertuang dalam Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) Nomor B 03/N.7.10/Eo.1/02/2016 yang ditandatangani Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu. Kasus Novel dihentikan karena tidak terbukti. Irwansyah dalam kasus ini berstatus saksi korban.(gw/fin)

  • Dipublish : 23 Juni 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami