Penyuap Pegawai Pajak Dijebloskan ke Penjara oleh KPK

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Komisaris PT Wahana Auto Ekamarga (WAE) Darwin Maspolim. Ia ditahan lantaran setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pemeriksaan atas restitusi pajak PT WAE tahun 2015 dan 2016.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Darwin akan menjalani penahanan perdana selma 20 hari ke depan di Rutan K4 KPK. Terhitung sejak 13 November hingga 2 Desember 2019 mendatang.

“Hari ini KPK melakukan penahanan terhadap tersangka DM (Darwin Maspolim), pihak dari PT WAE dalam kasus tindak pidana korupsi suap terkait dengan pemeriksaan atas restitusi pajak PT WAE tahun pajak 2015 dan 2016,” ujar Febri di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (13/11).

Sebelum resmi menahan Darwin, KPK sempat melakukan pemeriksaan terhadapnya sebagai tersangka. Pemeriksaan itu dilakukan guna mendalami dugaan adanya penyerahan uang pada petugas pajak senilai Rp9,53 miliar.

Darwin diketahui keluar dari Kantor KPK sekitar Pukul 19.03 WIB. Ia keluar sembari mengenakan rompi oranye yang berarti telah resmi menjadi tahanan KPK. Namun, ia tidak sedikit pun bersedia memberi komentar terkait penahanannya.

Suap tersebut diduga diserahkan oleh Darwin kepada empat pegawai Direktorat Jenderal (Ditjen Pajak) masing-masing Kepala Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (PMA) Tiga Kanwil Jakarta Khusus/Penyidik PNS Yul Dirga, Supervisor Tim Pemeriksa Pajak Hadi Sutrisno, Ketua Tim Pemeriksa Pajak Jumari, dan Anggota Tim Pemeriksa Pajak M Naim Fahmi.

Tujuannya agar keempat pegawai pajak tersebut menyetujui restitusi pajak PT WAE tahun 2015 dan 2016 masing-masing sebesar Rp5,03 miliar serta Rp2,7 miliar.

“Setelah menemukan bukti permulaan yang cukup, KPK melakukan penyidikan dan menetapkan lima tersangka,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.

Saut menjelaskan, PT WAE merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang menjalankan bisnis sebagai dealer dan pengelola layanan sales, services, spare part dan body paint untuk mobil pabrikan luar negeri. Jaguar, Bentley, Land Rover, dan Mazda merupakan beberapa merek yang dijual PT WAE di Indonesia.

Terkait restitusi pajak tahun 2015, PT WAE mulanya menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dengan mengajukan restitusi sebesar Rp5,03 miliar. Kantor Pelayanan Pajak PMA Tiga mengutus tim untuk melakukan pemeriksaan lapangan. Dalam tim tersebut, Hadi Sutrisno ditugaskan sebagai supervisor, Jumari sebagai ketua tim, dan M Naim Fahmi sebagai anggota tim.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim, Hadi Sutrisno menyampaikan kepada PT WAE bahwa perusahaan tidak melakukan kelebihan bayar, melainkan kurang. Hadi Sutrisno kemudian menawarkan bantuan untuk menyetujui pengajuan restitusi dengan imbalan di atas Rp1 miliar.

Saut membeberkan, Darwin Maspolim sebagai petinggi PT WAE pun menyetujui hal itu. Pihak PT WAE lalu mencairkan uang dalam dua tahap dan menukarkannya ke dollar Amerika Serikat (USD).

Pada April 2017, terbit Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi sebesar Rp4,59 Milyar. SKPLB tersebut ditandatangani oleh Yul Dirga selaku Kepala KPP PMA Tiga.

Berikutnya, sekitar awal Mei 2017, salah satu staf PT WAE menyerahkan uang pada Hadi Sutrisno di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Barat sebesar USD73.700 yang dikemas dalam sebuah kantong plastik hitam. Uang tersebut kemudian dibagi Hadi pada Yul Dirga, Jumadi, dan M Naim Fahmi. “Pembagian sekitar USD18.425 per orang,” kata Saut.

Saut menambahkan, praktik suap pun berlanjut untuk pengajuan restitusi pajak tahun 2016. PT WAE kembali menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dengan mengajukan restitusi sebesar Rp2,7 miliar.

Sebagai tindak lanjut, Tersangka Yul Dirga menandatangani surat pemeriksaan lapangan dengan Hadi Sutrisno sebagai salah satu tim pemeriksa. Saat proses klarifikasi, Hadi Sutrisno memberitahukan pihak PT WAE bahwa terdapat banyak koreksi sehingga yang seharusnya lebih bayar menjadi kurang bayar.

“Dalam pertemuan berikutnya tersangka HS (Hadi Sutrisno) kembali menawarkan bantuan dan meminta uang Rp1 miliar,” ucap Saut.

Kali ini, PT WAE menolak. Sehingga, Hadi Sutrisno bernegosiasi dengan Yul Dirga. Kemudian disepakati komitmen fee Rp800 juta. Pihak PT WAE kembali menggunakan sarana money changer untuk menukar uang rupiah menjadi USD.

Pada Juni 2018, terbit Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang ditandatangani oleh Yul Dirga. Surat tersebut menyetujui restitusi sebesar Rp2,77 miliar.

Dua hari kemudian, pihak PT WAE menyerahkan uang USD57.500 pada Hadi Sutrisnodi toilet pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

“Uang tersebut kemudian dibagi dengan tim pemeriksa sekitar USD13.700 untuk setiap orang. Sedangkan Yul Dirga, Kepala KPP PMA Tiga mendapatkan USD14.400,” jelas Saut.

(fin)

  • Dipublish : 14 November 2019
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami