Perpecahan Malaysia Kian Tajam

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. (Jonathan Cellona, ABS-CBN News)
Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. (Jonathan Cellona, ABS-CBN News)
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

MAKASSAR – Teka-teki siapa pewaris kursi Perdana Menteri (PM) Malaysia masih abu-abu. Namun, Anwar Ibrahim dan Azmin Ali disebut sebagai kandidat terkuat.

Persaingan kedua tokoh ini justru makin mempertajam konflik politik di Malaysia. Kubu-kubu yang awalnya bersatu melawan Barisan Nasional yang dikomandoi UMNO, kini membentuk faksi-faksi.

Ketua prodi Hubungan Internasional Universitas Bosowa (Unibos) Zulkhair Burhan menganalisis, untuk menengahi kubu yang beronflik ini, kepentingan nasional Malaysia harus jadi rujukan. Sebab, banyak persoalan domestik dan regional yang perlu diselesaikan pula.

“Saya kira itu bisa jadi pertimbangan kelompok-kelompok yang bertikai dalam kancah politik domestik,” beber Zulkhair, kemarin.

Dari segi dampak, Boby sapaan karibnya yakin akan memengaruhi situasi hubungan dengan Indonesia karena berefek ke stabilitas. Secara geografis Indonesia dan Malaysia berdekatan dan punya kepentingan ekonomi.

“Banyak sekali kerja sama dengan Malaysia baik melalui pemerintah maupun nonpemerintah. Sehinga ketika tidak ada kepastian di negara seberang, tentu akan berpengaruh dengan dinamika kerja samanya,” sebutnya.

Saat ini, masa depan politik domestik di Malaysia masih sangat dipengaruhi oleh polarisasi yang terjadi sejak beberapa tahun lalu. Meski kemudian, aktor-aktornya banyak yang relatif baru, namun polarisasinya masih sama.

“Kenaikan Muhathir Mohamad seolah mengubah polarisasi itu, tetapi dalam politik tidak ada yang abadi. Kubu-kubu itu buktinya kembali bertikai,” urainya.

Pengamat hubungan internasional Universitas Hasanuddin (Unhas), Drs Patrice Lumumba MA menuturkan, kondisi perpolitikan Malaysia saat ini sedang gaduh. Ada banyak sekali manuver yang terjadi akibat mundurnya Mahathir Mohamad sebagai PM Malaysia.

Sehingga, siapa pewaris kursi PM, kata Patrice, cukup sulit diprediksi. Akan tetapi, ada dua kandidat yang ramai menjadi perbincangan yakni Anwar Ibrahim dan Azmin Ali. Kedua nama ini adalah orang yang paling berpotensi.

“Azmin Ali itu kan merangkap menteri perdagangan jadi secara de facto lebih menonjol daripada Anwar Ibrahim. Tetapi, bukan berarti peluang Anwar Ibrahim juga kecil,” kata Patrice, malam tadi.

Teka teki ini, kata dia, akan terlihat dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, setelah Mahathir menyerahkan pengunduran dirinya kepada raja, dia diminta menjadi pejabat sementara.

“Tetapi saya khawatir kedua pihak, Anwar Ibrahim dan Azmin Ali ada semacam revolusi di Malaysia yang akan bertubrukan antara pendukung mereka,” ucapnya.

Patrice menungkapkan, kedua orang ini sangat berpeluang. Di sisi lain, Anwar Ibrahim sebagai pemenang koalisi suara terbanyak. Makanya istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, menjadi Wakil Perdana Menteri.

“Masih besar peluangnya. Tinggal kompromi nanti dengan istrinya untuk mundur. Tetapi dengan catatan, karena istrinya sudah duduk sebagai wakil perdana menteri, Anwar Ibrahim juga tak boleh terlalu berharap,” paparnya.

Pengamat hubungan internasional Unhas lainnya, Darwis berpendapat, belum ada kepastian dari mundurnya Mahathir Mohamad. Namun, ia menyayangkan, komitmen untuk menjadikan Anwar Ibrahim sebagai pengganti tidak ditepati.

Menurutnya, ada fraksi baik oposisi maupun pemenang pemilihan rakyat yang sepertinya tidak menginginkan Anwar Ibrahim meduduki jabatan sebagai PM. Seolah-olah ada kerja sama antarelite politik untuk tidak meloloskan Presiden Partai Keadilan Rakyat itu.

“Saya tidak melihat adanya jalan tengah. Kalaupun ada, itu pasti hanya mukjizat. Ada arus besar yang tidak menginginkan Anwar,” katanya.

Ketua prodi Hubungan Internasional Unhas ini melihat, belum ada dampak signifikan terhadap Indonesia bahkan Sulsel. Yang jelas, kata dia, masyarakat Malaysia mulai terpecah.

“Indonesia belum terpengaruh signifikan. Hubungan perdagangan Indonesia-Malaysia juga masih baik-baik saja, apalagi untuk Sulsel. TKI pun belum tersentuh. Sekarang lagi adem ayem,” tambahnya.

Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah, meminta Mahathir Mohammad membentuk kabinet baru. Setelah itu, PM baru akan ditentukan. Masalanya, sosok PM baru jadi sumber friksi.

Pengunduran diri PM membuat koalisi Mahathir Mohammad (94) dengan Anwar Ibrahim (72) retak.
“Padahal koalisi tersebut mencetak kemenangan mengejutkan pada pemilihan umum pada 2018,” kata Sekretaris Pemrintahan Malaysia Mohd Zuki Ali.

Mahathir Mohammad mengundurkan diri sebagai menyusul tuduhan bahwa dia akan membentuk kemitraan dengan partai-partai oposisi yang dikalahkannya saat Pemilu dua tahun lalu.

“Dia berpikir bahwa dia seharusnya tidak diperlakukan seperti itu, bahwa ia bekerja sama dengan orang-orang yang kami yakini korup,” ujar Anwar Ibrahim setelah bertemu Mahathir Mohammad.

“Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak akan bekerja sama dengan orang-orang yang berhubungan dengan rezim lampau,” ujar Presiden Partai Keadilan Rakyat itu.

Tetapi tidak jelas apakah pengunduran diri itu mengakhiri posisi Mahathir Mohammad sebagai perdana menteri Malaysia sepenuhnya, karena setidaknya tiga pihak dalam koalisinya meminta Mahathir untuk tetap menjabat. Sementara pihak oposisi juga setuju untuk mendukungnya.

“Jika dia kembali sebagai PM, dia memiliki kebebasan untuk memilih mitranya atau yang dia ingin menjadi bagian dari kabinetnya,” kata Direktur jajak pendapat Merdeka, Ibrahim Suffian.

Usai mundur dari Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad mundur dari Partai Bersatu yang ia bentuk sesaat sebelum Pemilu. (sul-ism/abg-zuk)

  • Dipublish : 27 Februari 2020
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

BERITA LAINNYA

VIDEO ADS

BANNER ADS

VIDEO NEWS

BANNER ADS

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami